GORONTALOPOST -Pernah melihat seekor bebek yang tampak tenang di permukaan air, tetapi sebenarnya kakinya mendayung cepat di bawah permukaan agar tetap mengapung? Fenomena itulah yang disebut Duck Syndrome.
Istilah ini kini sering digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis, terutama yang dialami oleh generasi muda, termasuk Gen Z.
Apa Itu Duck Syndrome?
Duck Syndrome adalah istilah yang pertama kali populer di Universitas Stanford, Amerika Serikat. Mahasiswa di sana sering terlihat “baik-baik saja” di luar, seakan mampu mengatasi semua tuntutan akademik, sosial, maupun kehidupan pribadi. Namun di balik itu, mereka sebenarnya diliputi kecemasan, panik, dan tekanan besar yang tidak terlihat orang lain.
Gen Z kemudian banyak menggunakan istilah ini untuk menggambarkan diri mereka. Di media sosial, banyak yang mengaku mengalami “duck syndrome” saat harus terlihat tenang di sekolah, kampus, atau tempat kerja, padahal hati dan pikirannya sedang bergejolak.
Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Duck Syndrome?
Fenomena ini semakin menonjol pada Gen Z karena beberapa faktor:
1. Tekanan akademik dan karier – Gen Z hidup di era persaingan yang ketat, dituntut berprestasi sejak dini.
2. Budaya pencitraan di media sosial – Tampil “baik-baik saja” atau “sempurna” membuat banyak orang menutupi kesulitan yang sebenarnya.
3. Kurangnya ruang aman untuk bercerita– Tidak semua orang punya support system yang mendukung, sehingga mereka memilih diam.
4. Standar sukses yang tinggi – Gen Z sering merasa harus selalu produktif, kreatif, dan berhasil di usia muda.
Dampak Duck Syndrome terhadap Kesehatan Mental
Jika dibiarkan, Duck Syndrome bisa memicu masalah kesehatan mental serius, seperti:
-Stres berkepanjangan
-Kecemasan sosial
-Burnout
-Depresi tersembunyi
Hal ini bisa membuat seseorang tampak berfungsi dengan baik sehari-hari, tetapi sebenarnya menyimpan luka batin yang berat.
Cara Mengatasi Duck Syndrome
Agar tidak terjebak dalam fenomena ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
-Belajar jujur pada diri sendiri Akui kalau sedang tidak baik-baik saja. Itu bukan kelemahan, melainkan langkah awal penyembuhan.
-Berbagi cerita dengan orang terpercaya Teman, keluarga, atau bahkan konselor bisa menjadi tempat melepas beban.
-Batasi tekanan dari media sosial Ingat, apa yang ditampilkan orang lain sering hanya sisi terbaik, bukan seluruh kenyataan.
-Prioritaskan kesehatan mental Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional bila tekanan terasa terlalu berat.
Duck Syndrome menjadi gambaran nyata bagaimana banyak anak muda terlihat tenang di luar, tetapi berjuang keras di dalam. Gen Z, yang dikenal sebagai generasi kreatif dan kritis, ternyata juga menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesehatan mentalnya.
Mengakui perasaan, berani mencari bantuan, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi langkah penting untuk keluar dari lingkaran “bebek yang pura-pura tenang”.(jpg)
Editor : Nur Fadilah