GORONTALOPOST- Di pedalaman Kalimantan Timur, terdapat sebuah kepercayaan yang dijaga rapat oleh masyarakat setempat. Kepohonan, sebuah kepercayaan kuno yang dipegang teguh oleh masyarakat, telah menjadi pusat perhatian dalam budaya mereka. Di balik ritual sederhana ini tersimpan makna yang dalam, mencerminkan hubungan yang kompleks antara manusia dan alam.
Kepohonan pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan bahwa menolak untuk ikut menyantap makanan atau minuman yang dilihat orang lain dapat membawa malapetaka. Proses menyantap ini tidak sekadar mengonsumsi makanan, melainkan juga mengenai menyentuh makanan dengan jari dan menyentuhkan jari tersebut ke leher. Ketika seseorang menolak untuk melakukannya, pemilik makanan seringkali mengangkat wadah hidangan sambil mengucapkan kata-kata peringatan.
Selain dari situasi yang disebutkan di atas, juga dipicu oleh niat yang terpendam. Jika seseorang memiliki keinginan untuk makan atau minum sesuatu namun tidak melakukannya, diyakini bahwa ini dapat menarik malapetaka. Oleh karena itu, keinginan yang terpendam harus segera dipenuhi.
Praktik Kepohonan juga mencakup interaksi dengan alam. Ketika seseorang mengambil buah dari kebun, mereka harus meminta izin secara halus seolah-olah pemilik kebun berada di sana. Setelah mengambil buah, mereka juga wajib meletakkan ranting segar di bawah pohon sebagai tanda kesepakatan dengan roh-roh alam.
Kepohonan adalah cerminan dari kebijaksanaan lama yang masih hidup di hati masyarakat Pasir. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dan alam dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita-cerita kuno yang mengingatkan kita akan kekuatan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan dengan lingkungan sekitar. Kepohonan adalah salah satu contoh kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya, memperkuat ikatan antara manusia dan alam.
Editor : Priska Watung