GORONTALOPOST - Di dunia film, kebaikan biasanya berakhir dengan happy ending.
Namun, apakah kebaikan selalu berbuah manis di dunia nyata? Kenyataannya, sering kali orang jahat justru yang menang.
Pertanyaan ini membawa kita pada refleksi lebih dalam: Apakah kita harus berhenti menjadi orang baik? Apa solusinya? Benarkah orang baik selalu menderita?
Definisi Orang Baik: Apa dan Siapa?
Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita perlu menyamakan definisi "orang baik." Menurut kalian, orang baik itu yang seperti apa?
Secara umum, kebaikan adalah tindakan yang bermanfaat dan positif, biasanya ditujukan kepada orang lain.
Kebaikan erat kaitannya dengan empati, yaitu kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain dan berusaha meringankan beban mereka.
Dalam psikologi, orang baik sering kali memiliki tingkat "agreeableness" yang tinggi.
Agreeableness adalah salah satu dari lima aspek kepribadian dalam tes Big Five atau Ocean.
Orang dengan tingkat agreeableness yang tinggi cenderung mempercayai orang lain, jujur, altruistik, patuh, rendah hati, dan perhatian.
Sifat-sifat ini membuat dunia tampak lebih indah jika semua orang memilikinya. Namun, sayangnya, dunia tidak selalu seideal itu.
Mengapa Kebaikan Tidak Selalu Menguntungkan?
Meskipun memiliki banyak sifat positif, orang baik sering kali mengalami kesulitan dalam mencapai kesuksesan, kekayaan, dan hubungan asmara.
Mengapa bisa begitu? Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan fenomena ini:
1. Kecanduan Kebaikan
Berbuat baik bisa menjadi candu. Orang baik mungkin berbuat baik bukan semata-mata untuk orang lain, tetapi untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri.
Ketika ini terjadi, kebaikan menjadi kurang tulus dan lebih tentang memuaskan kebutuhan pribadi.
2. Mengutamakan Hubungan di Atas Segalanya
Orang baik cenderung mengutamakan hubungan dengan orang lain di atas segalanya.
Mereka sering menjadi pasif atau people pleaser, mengorbankan kepentingan pribadi demi menjaga hubungan.
Hal ini dapat menghambat mereka dalam mencapai karir dan manajemen keuangan yang baik.
3. Dimanfaatkan oleh Orang Lain
Semakin sering seseorang berbuat baik, semakin besar risiko kebaikan mereka dimanfaatkan oleh orang lain.
Jika mereka tidak bisa membatasi kebaikan mereka, mereka mungkin menjadi korban dari orang yang hanya ingin mengambil keuntungan.
Kebaikan yang Cerdas: Menjadi Baik dengan Bijak
Lalu, apakah kita harus berhenti menjadi baik? Tidak perlu. Yang perlu kita lakukan adalah menjadi baik dengan cerdas. Berikut beberapa cara untuk melakukannya:
1. Efektif Altruisme
Efektif altruisme adalah konsep menolong orang secara efektif.
Menurut Peter Singer, berbuat baik itu bagus, tetapi akan lebih baik jika perbuatan baik kita benar-benar berdampak positif.
Misalnya, jika kita ingin membantu memberantas kemiskinan, caranya bukan dengan memberikan uang kepada anak jalanan, tetapi dengan mendukung program yang efektif dalam mengatasi akar masalah kemiskinan.
2. Positive-Sum Game
Positive-sum game adalah situasi di mana semua pihak yang terlibat bisa menang.
Ini berarti kita harus mencari cara berkolaborasi yang menguntungkan semua orang, bukan hanya satu pihak saja.
Jika kita menemukan bahwa kebaikan kita dimanfaatkan secara tidak adil, kita perlu berhenti dan mencari cara lain untuk membantu.
3. Egoistic Altruism
Berbuat baik karena ingin dianggap baik oleh orang lain, meskipun kurang dianjurkan, tetap lebih baik daripada tidak berbuat baik sama sekali.
Ini adalah bentuk kebaikan yang mungkin didorong oleh ego, tetapi tetap menghasilkan dampak positif.
Menyadari Kebaikan yang Tidak Selalu Baik
Kebaikan yang tampaknya baik tidak selalu memberikan hasil yang baik.
Misalnya, memberikan uang kepada anak jalanan mungkin terlihat baik, tetapi sebenarnya tidak menyelesaikan masalah kemiskinan.
Bahkan, bisa memperparah masalah jika mereka menjadi tergantung pada pemberian tersebut.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan. Misalnya, menghindari konflik dengan tidak menolak seseorang yang tidak kita sukai mungkin terlihat baik, tetapi bisa membuat orang tersebut semakin berharap.
Komunikasi yang jujur, meskipun terasa menyakitkan, sering kali lebih baik dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, kebaikan itu relatif. Apa yang baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain.
Yang penting adalah kita tetap berbuat baik dengan cara yang cerdas dan bijak.
Kesimpulan
Prinsip positive-sum game bisa menjadi panduan dalam berbuat baik, mencari cara agar semua pihak mendapatkan manfaat.
Dengan cara ini, kita bisa tetap menjadi orang baik tanpa harus mengorbankan kesuksesan, kekayaan, atau hubungan asmara kita.
Mari terus berbuat baik, tetapi dengan cara yang tepat dan efektif.***
Sumber: Youtube @Satu Persen - Indonesia Life School
Editor : Tina Mamangkey