Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Apakah Kebaikan atau Kejahatan Bawaan Lahir? Yuk Simak Penjelasannya

Tina Mamangkey • Senin, 12 Agustus 2024 | 18:03 WIB
Ilustrasi - Kita dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik atau jahat
Ilustrasi - Kita dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik atau jahat

GORONTALOPOST - Bayangkan Anda sedang menonton berita di televisi.

Di satu sisi, Anda mendengar tentang seorang remaja yang melakukan tindakan keji, mengambil nyawa orang lain tanpa rasa bersalah.

Di sisi lain, Anda mendengar tentang seorang anak muda yang rela bekerja keras demi menghidupi keluarganya, menunjukkan dedikasi dan cinta yang luar biasa.

Dua kisah ini mungkin membuat Anda berpikir, mengapa manusia bisa begitu berbeda?

Apa yang menyebabkan seseorang melakukan kejahatan, sementara yang lain melakukan kebaikan?

Lebih dalam lagi, kita mungkin bertanya-tanya, apakah kita terlahir dengan kecenderungan untuk menjadi baik atau jahat?

Pertanyaan ini bukanlah hal baru; ia telah menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan dan filsuf selama berabad-abad.

Salah satu teori klasik menyatakan bahwa manusia lahir seperti tabula rasa—seperti kertas putih kosong yang siap diisi oleh pengalaman hidup.

Dalam pandangan ini, baik atau buruknya seseorang sepenuhnya tergantung pada lingkungan dan pengalaman yang membentuknya.

Lingkungan, dalam hal ini, menjadi faktor penentu utama apakah seseorang akan tumbuh menjadi individu yang baik atau jahat.

Namun, penelitian terbaru menantang pandangan ini.

Studi-studi menunjukkan bahwa bayi sebenarnya tidak lahir sepenuhnya kosong.

Mereka sudah memiliki pemahaman dasar tentang konsep baik dan jahat.

Dalam sebuah eksperimen terkenal, bayi yang baru beberapa bulan lahir dapat menunjukkan preferensi terhadap boneka yang "membantu" dibandingkan dengan boneka yang "menghalangi." Ini menunjukkan bahwa empati, rasa keadilan, dan kecenderungan untuk menolong mungkin sudah tertanam sejak lahir.

Jadi, jika setiap dari kita memang memiliki benih kebaikan sejak lahir, bagaimana dengan sifat jahat? Dari mana asalnya?

Jawaban atas pertanyaan ini mungkin tidak sesederhana yang kita harapkan.

Ada teori yang menyebutkan bahwa faktor genetik juga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku seseorang.

Salah satu gen yang sering disebut-sebut dalam konteks ini adalah gen yang mengatur produksi serotonin, hormon yang terkait dengan perasaan bahagia dan kesejahteraan.

Ketika gen ini mengalami mutasi atau kelainan, hal itu dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap perilaku impulsif dan agresif.

Contoh nyatanya adalah seorang pria yang melakukan kejahatan keji dan ditemukan memiliki kelainan genetik ini.

Namun, penting untuk dicatat bahwa memiliki kelainan genetik ini tidak serta-merta menjadikan seseorang jahat.

Contoh yang menakjubkan adalah seorang profesor yang juga memiliki kelainan gen yang sama, tetapi hidupnya jauh dari perilaku agresif atau impulsif.

Apa yang membedakan kedua individu ini?

Jawabannya adalah lingkungan.

Satu orang tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan dan kekerasan, sementara yang lain dibesarkan dengan cinta dan dukungan.

Ini menunjukkan bahwa lingkungan tetap memainkan peran penting, bahkan ketika ada faktor genetik yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

Baca Juga: 6 Hal yang Dihindari Wanita Berkelas di Depan Umum

Selain genetik dan lingkungan, ada satu teori lagi yang layak dipertimbangkan: teori egoisme manusia.

Menurut teori ini, manusia pada dasarnya egois dan bertindak demi kepentingan dirinya sendiri untuk bertahan hidup.

Namun, anehnya, cara terbaik untuk bertahan hidup justru adalah dengan bekerja sama dalam kelompok.

Inilah yang menyebabkan kita memiliki sifat-sifat seperti empati, kerjasama, dan kepedulian terhadap orang lain.

Sifat-sifat ini membantu kita bertahan hidup dalam kelompok, yang pada gilirannya memastikan kelangsungan hidup gen kita.

Jadi, kembali pada pertanyaan awal: Apakah manusia terlahir baik, jahat, atau netral?

Mungkin jawabannya adalah kombinasi dari semuanya.

Kita dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik atau jahat, dan apa yang kita pilih untuk menjadi, pada akhirnya tergantung pada diri kita sendiri dan pengaruh lingkungan di sekitar kita.

Kehidupan adalah serangkaian pilihan—pilihan untuk mencintai atau membenci, untuk menolong atau melukai, untuk menjadi baik atau jahat.

Setiap tindakan yang kita ambil membentuk siapa kita sebagai individu dan bagaimana kita akan dikenang.

***

Sumber: YouTube Kok Bisa? 

Editor : Tina Mamangkey
#Orang Jahat #orang baik #sifat #manusia #Kebaikan #kejahatan