GORONTALOPOST - Saat kita menjalani hari bersama orang yang kita suka, rasanya jantung berdegup lebih cepat, dan hanya wajahnya yang terbayang di benak kita.
Perasaan memang tidak bisa berbohong; rasanya seperti mendaki gunung setinggi apapun demi orang yang kita cintai.
Namun, ada kalanya kita bertanya-tanya: apakah dia benar orang yang tepat untuk kita perjuangkan dan pertahankan?
Atau mungkin kita hanya terjebak dalam mabuk cinta?
Konon, cinta tidak memerlukan alasan rasional, tetapi apakah itu benar?
Apakah pikiran dan perasaan tidak dapat berjalan beriringan?
Pertama-tama, penting untuk dipahami bahwa pikiran dan perasaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Kedua-duanya merupakan produk dari otak kita yang saling berhubungan dan memiliki peran masing-masing.
Ketika kita menyukai seseorang, ada proses yang terjadi di dalam diri kita tanpa disadari yang membentuk tipe orang yang kita sukai.
Proses ini berakar pada insting dan seringkali kita sebut sebagai perasaan.
Bayangkan saat kita berbelanja di minimarket; dari kejauhan, kita dapat langsung membedakan cemilan favorit kita dari yang lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor yang membentuk tipe orang yang kita sukai tidak hanya berdasarkan penampilan, tetapi juga latar belakang, seperti suku, agama, dan pandangan politik.
Perasaan Memegang Kendali di Awal, Pikiran yang Memilih di Kemudian Hari
Ketika kita pertama kali jatuh cinta, perasaanlah yang memegang kendali.
Namun, saat kita mulai mengenal lebih dalam tentang orang tersebut, pikiran berperan penting dalam memilih pasangan yang terbaik.
Sementara perasaan membuat kita jatuh cinta, pikiran membantu kita bertahan dalam hubungan tersebut.
Dengan memahami bibit, bebet, dan bobot pasangan kita, kita bisa lebih tahu apakah hubungan ini cocok atau tidak.
Namun, para ahli berpendapat bahwa mengabaikan emosi demi alasan yang terlalu rasional bisa berdampak negatif.
Kita sebagai manusia memiliki bias negatif saat memikirkan sesuatu, termasuk hubungan.
Cenderung yang teringat pertama kali adalah hal-hal buruk. Penelitian menunjukkan bahwa overthinking dapat mengganggu kemampuan kita dalam mengambil keputusan.
Ketika kita terjebak dalam pikiran negatif, kesalahan langkah pun sering kali terjadi.
Kesimpulannya, pikiran dan perasaan bukanlah musuh yang saling berlawanan.
Keduanya selalu berjalan beriringan, membentuk cara kita berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Jadi, bagi kalian yang mungkin sejak tadi membayangkan wajah si dia, mungkin sudah saatnya untuk mencari cara agar pikiran dan perasaan kalian tidak hanya berjalan sendiri-sendiri, tetapi juga berjalan beriringan bersama orang yang kalian cintai.
***
Sumber: YouTube Kok Bisa?
Editor : Tina Mamangkey