GORONTALOPOST - Kita sering melihat adegan tembak-menembak di film-film, di mana para tokoh utama tetap berdiri tegak meskipun tertembak.
Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh manusia ketika peluru menembus kulit dan bersarang di dalam tubuh?
Apakah kita bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa, atau mungkin sebaliknya, tidak merasakan apa-apa sama sekali?
Reaksi Tubuh Saat Ditembak
Ketika seseorang terkena tembakan, otak segera beralih ke mode bertahan hidup.
Ini adalah respons alami tubuh ketika menghadapi ancaman besar. Hormon adrenalin memuncak, memberikan dorongan untuk melarikan diri atau berjuang, yang dikenal sebagai respons "fight or flight".
Dalam situasi ini, seseorang mungkin tidak langsung merasakan sakit.
Sebaliknya, yang dirasakan pertama kali bisa jadi adalah tekanan di tempat masuknya peluru, disusul dengan sensasi panas seperti terbakar.
Namun, rasa sakit itu datang.
Ketika peluru bersarang di tubuh, jaringan-jaringan yang dilalui oleh peluru rusak, dan rasa sakit yang luar biasa mulai terasa.
Jika peluru mengenai kepala, mungkin akan ada suara bising yang mengganggu di telinga akibat kerusakan yang terjadi di area sekitar telinga atau otak.
Apa yang Terjadi Saat Peluru Masuk ke Tubuh?
Proses penembakan dimulai ketika pelatuk ditarik, memicu bahan peledak yang mendorong peluru keluar dari laras dengan kecepatan sangat tinggi.
Kecepatan ini membuat peluru mampu menembus berbagai benda, termasuk kulit manusia.
Ketika peluru menembus kulit, ia merusak jaringan tubuh di sepanjang jalur yang dilaluinya hingga energi kinetiknya habis.
Pada saat itu, peluru bisa berhenti dan bersarang di dalam tubuh, atau jika menggunakan senjata dengan energi lebih besar, peluru bisa terus melaju dan keluar dari tubuh.
Senjata dengan kaliber besar memiliki kemampuan untuk menembus lapisan-lapisan tubuh lebih dalam karena energi yang lebih besar.
Peluru dari senjata seperti ini bahkan bisa melintasi enam lapangan sepak bola hanya dalam satu detik!
Seberapa Parah Luka Akibat Tembakan?
Keparahan luka akibat tembakan sangat bergantung pada lokasi tubuh yang terkena dan jenis senjata yang digunakan.
Jika peluru mengenai organ-organ penting, risiko pendarahan hebat dan kematian sangat tinggi.
Misalnya, tembakan di area kepala, dada, atau perut memiliki peluang besar untuk menyebabkan kerusakan fatal.
Kelumpuhan bisa menjadi konsekuensi dari tembakan yang mengenai tulang belakang.
Namun, ada juga kisah-kisah luar biasa dari orang-orang yang selamat setelah tertembak belasan hingga puluhan kali.
Contohnya, beberapa orang yang berhasil selamat meski peluru hanya meleset sedikit dari jantungnya.
Keberuntungan dan lokasi peluru yang meleset dari organ vital bisa menjadi faktor penyelamat.
Pertolongan Pertama pada Korban Tembakan
Di Indonesia, senjata api tidak mudah diakses oleh masyarakat umum, berbeda dengan negara-negara seperti Amerika Serikat yang memiliki tingkat kematian akibat senjata api tertinggi di dunia.
Namun, jika di sekitar kita ada seseorang yang tertembak, langkah-langkah pertolongan pertama sangat penting untuk meningkatkan peluang korban selamat.
Satu hal yang harus dihindari adalah mencoba mengeluarkan peluru dari tubuh korban.
Mengeluarkan peluru tanpa bantuan medis justru bisa memperparah pendarahan dan memperburuk kondisi korban.
Sebaliknya, berikan tekanan pada luka untuk mengurangi pendarahan, dan segera hubungi petugas medis.
Jika korban berhenti bernapas, lakukan resusitasi jantung paru (CPR) sambil menunggu bantuan datang.
Waktu adalah kunci.
Korban tembakan harus mendapatkan perawatan medis maksimal dalam waktu 10 menit setelah tertembak untuk meningkatkan peluang selamat.
Meski korban tembakan bisa selamat dan kembali sehat secara fisik, banyak dari mereka yang mengalami trauma psikologis yang mendalam.
Suara tembakan atau hal-hal yang mengingatkan pada insiden tersebut bisa memicu kecemasan atau ketakutan yang berlebihan.
Proses pemulihan dari trauma ini membutuhkan waktu, dukungan emosional, dan terkadang bantuan profesional.
Kesimpulan
Mengalami tembakan bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Meskipun kita sering melihat adegan tembak-menembak di film sebagai sesuatu yang penuh aksi dan heroik, kenyataannya jauh lebih menakutkan dan kompleks.
Dengan memahami apa yang terjadi pada tubuh dan pikiran saat ditembak, kita bisa lebih menghargai betapa serius dan berbahayanya senjata api, serta pentingnya langkah-langkah pencegahan dan penanganan yang tepat.***
Sumber: YouTube Kok Bisa?
Editor : Tina Mamangkey