Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Menurut Sains, 7 Tanda Kebiasaan Media Sosial yang Dimiliki Orang Narsis!

Tina Mamangkey • Selasa, 8 Oktober 2024 | 10:28 WIB
Ilustrasi,  Orang tidak bisa berhenti mengunggah foto selfie
Ilustrasi, Orang tidak bisa berhenti mengunggah foto selfie

GORONTALOPOST - Pernahkah Anda mendengar pepatah “Mata adalah jendela jiwa”? Di era digital sekarang ini, kita bisa mengatakan bahwa profil media sosial adalah jendela baru bagi banyak orang.

Platform-platform ini seringkali mengungkap lebih banyak tentang diri kita daripada yang kita sadari, berfungsi seperti cermin yang memantulkan perilaku, pikiran, dan bahkan sifat-sifat kita.

Menariknya, penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan tertentu di media sosial dan ciri kepribadian, terutama narsisme.

Dilansir dari Personal Branding Blog, berikut tujuh kebiasaan media sosial yang menjadi tanda-tanda perilaku narsistik, yang didukung oleh penelitian ilmiah.

Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa sebagian orang tidak bisa berhenti mengunggah foto selfie atau tampaknya terjebak dalam drama daring, artikel ini adalah untuk Anda.

1. Frekuensi Selfie yang Berlebihan

Siapa yang tidak kenal dengan orang yang tak bisa berhenti berswafoto?

Meskipun selfie mungkin terlihat tidak berbahaya, penelitian dari Universitas Negeri Ohio menunjukkan bahwa individu dengan tingkat narsisme tinggi cenderung lebih sering mengunggah swafoto di media sosial.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa ini bukan hanya tentang sesekali mengunggah foto.

Kita berbicara tentang pola konsisten dalam mengunggah selfie, khususnya yang berfokus pada penampilan fisik.

2. Kebutuhan Konstan untuk Validasi

Ada kalanya seseorang merasa perlu membagikan setiap detail kecil kehidupannya di media sosial—dari secangkir kopi pagi hingga foto kucingnya yang sedang tidur.

Menurut studi dalam Computers in Human Behavior, individu narsis memiliki kebutuhan yang kuat untuk validasi melalui jumlah like, komentar, dan share.

Mereka merasa terangkat oleh perhatian yang mereka terima di platform tersebut, yang memperkuat rasa penting diri mereka dan mendorong keinginan untuk selalu diperhatikan.

3. Media Sosial Sebagai Panggung Pertunjukan

Banyak pengguna media sosial menyajikan profil yang lebih mirip film blockbuster daripada kehidupan sehari-hari.

Setiap gambar terlihat profesional, setiap status terkesan dramatis, dan setiap interaksi tampak seperti pertunjukan.

Perilaku eksibisionis ini adalah salah satu ciri utama dari narsisme. Media sosial memberikan panggung bagi para narsis untuk mengendalikan citra dan narasi mereka, namun, kenyataan di balik unggahan tersebut seringkali tidak seindah yang terlihat.

4. Kurangnya Empati

Perhatikan bagian komentar di media sosial; sering kali, di sanalah sikap seseorang terlihat jelas.

Sebuah studi pada tahun 2014 menunjukkan bahwa kurangnya empati adalah ciri khas individu dengan tingkat narsisme tinggi.

Mereka cenderung mengabaikan perasaan orang lain, terutama jika emosi tersebut tidak sejalan dengan pandangan mereka.

Keegoisan ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, mulai dari meremehkan perjuangan orang lain hingga hanya fokus pada diri sendiri.

5. Obsesi dengan Status dan Kekuasaan

Tidak jarang kita menemukan orang yang suka memamerkan prestasi atau kekayaan mereka di media sosial.

Perilaku ini dikenal sebagai 'kemegahan' dan berkaitan erat dengan narsisme.

Baca Juga: 5 Fakta Psikologis Dampak Bersikap Cuek Terhadap Seseorang

Semakin besar keinginan untuk menampilkan status atau kekuasaan, semakin tinggi tingkat narsisme yang dimiliki.

Hal ini menunjukkan kebutuhan mendalam untuk mengesankan orang lain sebagai simbol superioritas.

6. Kesulitan Menghadapi Kritik

Pernahkah Anda berinteraksi dengan seseorang yang sangat defensif terhadap kritik?

Ketidakmampuan untuk menerima pandangan yang berbeda adalah sifat umum pada individu narsis.

Dalam konteks media sosial, ini bisa terlihat dari tindakan seperti menghapus komentar yang tidak disukai, memblokir orang yang tidak sependapat, atau menyerang balik siapa pun yang memberikan kritik.

Ketika menghadapi situasi seperti ini, penting untuk diingat bahwa ini lebih berkaitan dengan mereka daripada dengan Anda.

7. Kebutuhan untuk Menjadi Pusat Perhatian

Apakah Anda mengenal seseorang yang selalu berhasil mengalihkan setiap pembicaraan menjadi tentang diri mereka sendiri?

Misalnya, saat Anda membagikan pengalaman baru, mereka segera mengaitkan pengalaman tersebut dengan pencapaian mereka sendiri.

Ini adalah tanda klasik dari narsisme. Individu dengan kecenderungan ini seringkali sangat ingin menjadi pusat perhatian dan merasa diakui oleh orang lain, sehingga hubungan yang tulus sulit terjalin.

---

Jika Anda melihat beberapa ciri ini pada orang-orang di sekitar Anda, penting untuk tetap bersikap empati.

Setiap orang memiliki perjuangan dan tantangannya sendiri yang sering kali tersembunyi di balik perilaku mereka.

Jika Anda mengenali beberapa dari sifat ini dalam diri Anda, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju perubahan yang berarti.

Gunakan wawasan ini sebagai alat untuk pemahaman yang lebih dalam, baik tentang orang lain maupun diri sendiri, saat menjelajahi dunia media sosial yang kompleks.

Yang terpenting, ingatlah bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah like atau share, melainkan oleh cinta, kebaikan, dan keaslian yang kita bawa ke dunia.

***

Editor : Tina Mamangkey
#Tanda-tanda #perilaku narsistik #media sosial #profil #kebiasaan