Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Kain Bentenan, Perpaduan Seni dan Sejarah dalam Setiap Benang

Priska Watung • Rabu, 13 November 2024 | 18:07 WIB
kain dengan motif bentenan
kain dengan motif bentenan

GORONTALOPOST - Kain Bentenan adalah salah satu kain tenun tradisional Sulawesi Utara yang memancarkan keindahan dan kekayaan budaya masyarakat Minahasa. Kain ini dikenal tidak hanya karena estetika motifnya yang unik tetapi juga karena sejarah panjang dan proses pembuatannya yang rumit, yang menjadikannya bagian penting dari warisan budaya Sulawesi Utara. Nama “Bentenan” sendiri diambil dari nama sebuah pelabuhan utama di Sulawesi Utara, di mana kain ini pertama kali diekspor ke luar Minahasa pada abad ke-15 hingga ke-17, menunjukkan bahwa kain ini telah lama dikenal dan dihargai.

Kain Bentenan dibuat di berbagai daerah seperti Tombulu, Tondano, Ratahan, dan Tombatu, dengan teknik tenun dobel ikat yang jarang ditemukan di daerah lain. Dalam teknik ini, benang yang membentuk lebar kain disebut Sa’lange, sementara benang memanjang disebut Wasa’lene. Teknik ini menghasilkan pola yang halus, rumit, dan unik, dengan kain yang ditenun tanpa terputus sehingga membentuk kain berbentuk tabung atau silinder. Pewarnaan kain ini menggunakan pewarna alami yang diperoleh dari tumbuhan khas setempat seperti pohon Taun untuk warna biru atau hijau, dan semak Lenu untuk warna kuning atau merah, menghasilkan nuansa warna yang alami dan khas.

Kain Bentenan memiliki tujuh motif utama, termasuk Tinompak Kuda dengan pola berulang, Tononton Mata yang menggambarkan bentuk manusia, Kalwu Patola yang terinspirasi dari kain Patola India, dan Kokera, yang memiliki motif bunga warna-warni dengan sulaman manik-manik. Ada juga motif Tonilama, kain putih tanpa warna, Sinoi dengan garis warna-warni, dan Pinatikan, yang memiliki garis motif jala dengan bentuk segi enam.

Dengan proses pembuatan yang rumit dan lama, kain Bentenan sering dijual dengan harga yang cukup tinggi, mencerminkan kerja keras dan ketelitian yang diperlukan untuk menghasilkan selembar kain. Kain Bentenan bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga bukti ketekunan dan kecintaan masyarakat Minahasa terhadap seni tenun tradisional. Kain ini menjadi salah satu warisan budaya Sulawesi Utara yang layak untuk dilestarikan dan dibanggakan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (Artha)

Editor : Priska Watung
#pohon #khas #kain #tradisi #Pembuatan #budaya #Tenun