Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Terungkap, 8 Kesalahan Orang Tua yang Membuat Anak Menjadi Sombong dan Manja, Menurut Psikologi

Tina Mamangkey • Rabu, 27 November 2024 | 04:00 WIB
Ilustrasi, Perilaku orang tua yang membuat anak menjadi sombong dan manja.
Ilustrasi, Perilaku orang tua yang membuat anak menjadi sombong dan manja.

GORONTALOPOST - Sebagai orang tua, wajar jika kita ingin yang terbaik bagi anak-anak kita.

Namun, sering kali tanpa disadari, kita bisa melakukan beberapa hal yang justru membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang manja dan merasa berhak atas segala sesuatu.

Perilaku ini bisa terbawa hingga dewasa, memengaruhi hubungan, karier, bahkan kesejahteraan mereka.

Dilansir dari laman blogherald.com, Inilah 8 perilaku orang tua yang dapat membesarkan anak menjadi sombong dan manja, menurut pandangan psikologi.

Dengan mengetahui hal ini, kita bisa lebih berhati-hati dalam mendidik dan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan penuh empati.

1. Terlalu Memanjakan Anak

Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua adalah memanjakan anak secara berlebihan.

Ini bisa dalam bentuk memberikan segala yang diinginkan anak, atau memenuhi kebutuhan mereka tanpa ada usaha dari pihak anak.

Psikolog David Bredehoft mengungkapkan bahwa sikap memanjakan bisa terjadi secara halus, misalnya memenuhi setiap permintaan anak, atau lebih terang-terangan seperti memberikan barang-barang materi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Memanjakan anak terlalu sering dapat membuat mereka merasa bahwa segala sesuatu harus didapatkan dengan mudah, tanpa usaha yang berarti.

Anak menjadi kurang memahami nilai kerja keras dan sulit menghadapi kekecewaan.

Ini bisa menyebabkan mereka tumbuh menjadi individu yang merasa berhak atas segala hal tanpa usaha.

2. Gagal Menetapkan Batasan

Batasan adalah hal penting yang harus diajarkan kepada anak sejak dini.

Tanpa batasan yang jelas, anak bisa merasa bahwa mereka bebas melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Misalnya, jika anak tidak diajarkan untuk tidak menyela percakapan orang dewasa, mereka akan merasa bahwa tidak ada yang salah dengan mengabaikan waktu dan pendapat orang lain.

Selain itu, tanpa batasan yang jelas, anak juga bisa menjadi kurang bertanggung jawab.

Menetapkan batasan yang konsisten mengajarkan anak untuk menghormati aturan dan memahami bahwa tindakan mereka memiliki konsekuensi.

3. Memecahkan Setiap Masalah Untuk Anak

Sebagai orang tua, kita ingin melindungi anak dari segala kesulitan. Namun, terlalu sering campur tangan dan menyelesaikan masalah anak untuk mereka justru bisa merugikan.

Anak yang tidak diberi kesempatan untuk menghadapi masalah kecil dan mencari solusi sendiri cenderung kurang percaya diri dan lebih bergantung pada orang lain.

Dengan membiarkan anak menghadapi tantangan dan mengatasi masalahnya sendiri, mereka akan belajar pentingnya ketahanan, penyelesaian masalah, dan juga menerima kenyataan bahwa tidak selalu segalanya berjalan mulus.

4. Tidak Mencontohkan Rasa Syukur

Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua. Jika kita sebagai orang tua tidak menunjukkan rasa syukur, anak akan tumbuh dengan pemikiran bahwa selalu mengejar lebih banyak adalah hal yang wajar.

Jika kita terus menginginkan lebih dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki, anak pun akan menganggap ketidakpuasan itu sebagai norma.

Sebaliknya, dengan menunjukkan rasa syukur atas apa yang kita miliki, kita mengajarkan anak untuk menghargai hal-hal kecil dalam hidup.

Menyadari dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang diterima membantu anak-anak mengembangkan rasa syukur yang lebih dalam.

5. Mengabaikan Empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain.

Sayangnya, tidak semua anak secara alami memiliki empati. Orang tua berperan penting dalam mengajarkan dan mendorong anak untuk mengembangkan empati, seperti mengajarkan mereka untuk berbagi atau menghibur teman yang sedang kesal.

Mengajarkan anak untuk mengenali dan menghargai perasaan orang lain akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli, tidak hanya kepada diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain di sekitar mereka.

6. Menempatkan Anak pada Kedudukan yang Terlalu Tinggi

Wajar jika kita bangga dengan pencapaian anak, namun memberikan pujian yang berlebihan atau menempatkan anak di atas segala-galanya dapat berdampak buruk.

Jika anak sering diberitahu bahwa mereka adalah yang terbaik, paling pintar, atau paling berbakat, mereka bisa mengembangkan rasa bahwa mereka lebih unggul dari orang lain dan berhak mendapatkan perlakuan istimewa.

Selain itu, tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik dapat menyebabkan kecemasan dan stres.

Ketika mereka akhirnya menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak selalu menjadi yang terbaik, hal itu bisa menjadi pukulan besar bagi harga diri mereka.

7. Mengabaikan Kekuatan Kata ‘Tolong’ dan ‘Terima Kasih’

Mungkin terdengar sepele, tetapi mengajarkan anak untuk menggunakan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ sangat penting.

Kata-kata ini mengajarkan anak bahwa mereka tidak berhak atas segala sesuatu tanpa usaha, dan juga mengajarkan rasa hormat terhadap orang lain.

Ketika anak menggunakan kata ‘tolong’ saat meminta sesuatu, mereka belajar untuk menghargai dan berinteraksi dengan orang lain secara sopan.

Mengucapkan ‘terima kasih’ juga membantu mereka merasa bersyukur atas apa yang mereka terima, dan tidak menganggap remeh apa yang diberikan oleh orang lain.

8. Menyelamatkan Anak dari Konsekuensi

Menyelamatkan anak setiap kali mereka menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka sebenarnya merugikan mereka.

Anak yang tidak pernah menghadapi konsekuensi dari tindakannya mungkin akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab dan merasa bisa melakukan apa saja tanpa menghadapi akibatnya.

Konsekuensi adalah cara yang efektif untuk mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan membantu mereka belajar dari kesalahan.

Meski sulit, penting bagi orang tua untuk membiarkan anak menghadapi kenyataan dan belajar bahwa setiap pilihan memiliki dampak.

---

Membesarkan anak memang penuh tantangan, dan tidak ada orang tua yang sempurna.

Jika Anda menyadari bahwa beberapa perilaku ini muncul dalam pola asuh Anda, jangan terlalu keras pada diri sendiri.

Yang terpenting adalah kesadaran untuk terus belajar dan berkembang dalam mendidik anak.

Tujuan kita bukanlah membesarkan anak yang sempurna, tetapi seorang individu yang bertanggung jawab, empati, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan baik.

Jangan ragu untuk merenung dan mencari cara untuk memperbaiki gaya pengasuhan Anda, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk tumbuh bersama anak-anak Anda.

***

Editor : Tina Mamangkey
#Anak #psikologi #perilaku #orang tua #membesarkan anak #manja #menjadi #perilaku orang tua #sombong