Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Aghori, Sekte yang Mengonsumsi Otak dan Feses Manusia

Tina Mamangkey • Selasa, 10 Desember 2024 | 08:26 WIB
Aghori, Sekte spiritual radikal yang mengajarkan pembebasan melalui praktik ekstrem
Aghori, Sekte spiritual radikal yang mengajarkan pembebasan melalui praktik ekstrem

GORONTALOPOST - Aghori, sebuah sekte yang misterius dan kontroversial di India, telah menjadi perbincangan di seluruh dunia berkat praktik spiritual mereka yang ekstrim dan dianggap bertentangan dengan norma-norma sosial.

Meskipun banyak cerita mencengangkan tentang mereka, hanya sedikit yang benar-benar memahami filosofi dan asal-usul sekte ini.

Sebagai bagian dari tradisi Hindu saivisme, Aghori memuja Dewa Siwa dalam bentuk yang paling radikal, yang dikenal sebagai Bairava.

Asal Usul dan Filosofi Aghori

Sekte Aghori berakar dari kepercayaan Hindu, khususnya dalam tradisi Saivisme, yang memuliakan Dewa Siwa sebagai Tuhan utama.

Mereka menganggap bahwa segala sesuatu di dunia ini, baik yang dianggap murni maupun najis, adalah manifestasi dari Siwa, dengan potensi spiritual yang sama.

Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara yang baik dan buruk, suci dan najis.

Aghori percaya bahwa dengan mengatasi dualitas moral ini, mereka bisa mencapai pencerahan spiritual yang lebih tinggi, yang disebut Moksha atau pembebasan dari segala keterikatan duniawi.

Sekte ini muncul pada abad ke-1 hingga ke-15 Masehi di India, meskipun praktik spiritual mereka dapat ditelusuri kembali ke tradisi Saivisme yang lebih tua.

Pendiri utama Aghori adalah Baba Kinaram, seorang mistikus dan yogi yang hidup pada abad ke-17.

Baba Kinaram diyakini telah memperoleh pencerahan spiritual pada usia 12 tahun setelah bertemu dengan guru spiritualnya, Datatreya, yang dianggap sebagai inkarnasi dari tiga Dewa utama Hindu: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Aghori dikenal karena praktik spiritual mereka yang ekstrem dan sering kali melibatkan ritual yang tabu dan mengejutkan.

Salah satu aspek yang paling mencolok adalah meditasi di tempat pemakaman, sebuah tempat yang bagi mereka penuh dengan energi spiritual yang tinggi.

Mereka percaya bahwa meditasi di dekat jenazah yang belum sepenuhnya dikremasi akan membantu mereka mengurangi ketakutan akan kematian dan memahami hakikat kehidupan serta kematian itu sendiri.

Tidak jarang, Aghori menggunakan abu jenazah dalam ritual mereka.

Bagi mereka, abu tersebut melambangkan ketidakkekalan duniawi dan merupakan sarana untuk mencapai konsentrasi spiritual yang mendalam.

Praktik ini bisa terasa mengerikan bagi orang luar, namun bagi Aghori, ini adalah langkah penting untuk melepaskan diri dari keterikatan duniawi dan mendekatkan diri pada Siwa.

Selain itu, mereka juga dikenal melakukan ritual kanibalisme, meskipun ini sangat jarang dan dilakukan dalam situasi tertentu.

Mereka tidak memakan daging manusia sembarangan, hanya dalam keadaan tertentu, seperti ketika mayat tersebut dibuang ke sungai oleh keluarga karena tidak mampu membayar biaya kremasi.

Tindakan ini memiliki makna spiritual, bukan karena lapar, tetapi sebagai bagian dari ritual untuk mencapai kesatuan dengan Siwa.

Sekte Aghori sering kali dipandang dengan ketakutan dan ketertarikan oleh masyarakat umum.

Mereka dianggap melanggar norma sosial, karena praktik mereka yang dianggap menjijikan atau bahkan terlarang.

Aghori tidak membedakan antara yang suci dan yang najis, dan mereka juga menentang hierarki kasta yang sering kali ditemukan dalam masyarakat Hindu.

Bagi Aghori, semua manifestasi alam semesta adalah bagian dari Siwa, dan mereka menerima segala aspek kehidupan, baik yang dianggap tabu maupun yang dianggap suci oleh masyarakat.

Selain itu, Aghori juga mengajarkan pentingnya pengalaman spiritual langsung dan pribadi dengan Dewa Siwa melalui meditasi, tapasya (pertapaan), dan ritual yang intens.

Mereka percaya bahwa dengan menanggalkan segala bentuk keterikatan duniawi, mereka dapat mencapai pencerahan sejati.

Meskipun banyak praktik Aghori yang dianggap ekstrem, mereka juga dikenal sebagai penyembuh spiritual yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir roh jahat.

Banyak orang datang kepada mereka dengan harapan bisa sembuh dari penyakit atau kutukan.

Aghori sering menggunakan mantra, ramuan herbal, dan ritual khusus untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.

Beberapa orang menganggap kemampuan penyembuhan ini sebagai bukti kekuatan spiritual mereka.

Namun, tidak semua orang menerima Aghori dengan lapang dada. Beberapa orang menganggap mereka sebagai kelompok yang tidak lebih dari tahayul, sementara yang lainnya menganggap mereka sebagai penjaga tradisi spiritual kuno yang sangat mendalam dan misterius.

Kehidupan sehari-hari Aghori dihabiskan dalam meditasi, yoga, dan pertapaan.

Banyak dari mereka tinggal di tempat terpencil seperti gua atau tempat-tempat yang jauh dari keramaian, untuk menjauhkan diri dari gangguan duniawi.

Tapasya atau pertapaan adalah inti dari praktik mereka. Mereka berusaha mengendalikan tubuh dan pikiran mereka untuk mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Beberapa Aghori juga berinteraksi dengan masyarakat, terutama untuk memberikan berkah atau membantu mereka yang membutuhkan.

Di Kota Varanasi, terdapat rumah sakit yang dikelola oleh Aghori yang merawat pasien penyakit lepra dan mereka menggunakan berbagai metode pengobatan, termasuk pengobatan alternatif Ayurveda serta ritual spiritual untuk penyembuhan.

Dengan masuknya modernisasi, sekte Aghori menghadapi tantangan baru.

Namun, mereka tetap mempertahankan inti filosofi dan ritual mereka sambil berusaha beradaptasi dengan perubahan dunia luar.

Beberapa Aghori mulai memanfaatkan teknologi modern, seperti media sosial, untuk menyampaikan ajaran mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Penggunaan ponsel dan transportasi umum semakin umum di kalangan mereka, dan beberapa bahkan mengenakan pakaian saat berada di tempat umum, meskipun aturan ketat dalam sekte ini tetap diterapkan.

Sekte ini juga memiliki pandangan yang sangat ketat tentang moralitas.

Mereka melarang hubungan seks sesama jenis, namun ada laporan yang menyebutkan bahwa sebagian dari mereka mengaku melakukan hubungan seks dengan mayat dalam ritual tertentu.

Dari sudut pandang agama lain, seperti Islam, ritual Aghori dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan.

Dalam Islam, tubuh manusia harus dihormati, bahkan setelah kematian, dan tindakan yang merendahkan martabat manusia baik yang hidup maupun yang telah meninggal, dilarang.

Islam juga menekankan batasan antara yang suci dan yang najis, yang sangat berbeda dengan pandangan Aghori.(*)

Sumber: Jazirah Ilmu

 

 

Editor : Tina Mamangkey
#aghori makan mayat #sekte #aghori