Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Mengapa Beberapa Wanita Suka Jadi Pelakor? Inilah Alasan Psikologis yang Tak Terduga

Tina Mamangkey • Rabu, 11 Desember 2024 | 12:14 WIB
Ilustrasi - Godaan untuk berselingkuh dapat muncul di berbagai situasi
Ilustrasi - Godaan untuk berselingkuh dapat muncul di berbagai situasi

GORONTALOPOST - Fenomena wanita yang terlibat dalam hubungan dengan pria yang sudah berpasangan, atau yang sering disebut sebagai "pelakor", kerap memunculkan banyak pertanyaan.

Kenapa banyak wanita yang memilih untuk menjadi pelakor dan merusak hubungan suami istri?

Apakah karena mereka merasa tidak ada lelaki yang masih single?

Atau memang itu adalah karakter dasar sebagian wanita?

Atau mungkin ada faktor lain yang memengaruhi keputusan mereka?

Untuk memahami fenomena ini, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa itu "pelakor". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan wanita yang menjalin hubungan dengan pria yang sudah berpasangan.

Meskipun sering dipandang negatif, ada beberapa alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi.

Alasan-alasan ini tidak hanya berkaitan dengan faktor individu, tetapi juga dengan lingkungan dan pola pikir yang terbentuk dari pengalaman hidup seseorang.

1. Kebutuhan Akan Cinta dan Pengakuan

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah untuk merasa diterima dan dicintai.

Kebutuhan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Dalam konteks hubungan, perasaan dicintai memberikan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri.

Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi di masa lalu atau dalam hubungan yang sedang dijalani, seseorang cenderung mencarinya di tempat lain, meskipun itu berarti terlibat dalam situasi yang rumit atau berisiko.

Bagi sebagian wanita, menjalin hubungan dengan pria yang sudah berpasangan bisa memberikan perasaan istimewa.

Mereka merasa diakui dan seolah-olah kehadiran mereka membawa sesuatu yang unik dan berharga.

Hal ini menjadi semacam validasi bahwa mereka menarik dan diinginkan, meskipun hubungan semacam ini seringkali penuh dengan tantangan, baik secara emosional maupun sosial.

Perasaan ini sering berakar dari pengalaman masa lalu. Misalnya, jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang kurang memberi kasih sayang, atau pernah berada dalam hubungan yang merasa diabaikan, kebutuhan akan perhatian menjadi semakin besar.

Ketika seorang pria yang sudah berpasangan memberikan perhatian, meskipun dalam kondisi yang tidak ideal, hal itu bisa terasa sangat berarti bagi wanita tersebut.

Namun, hubungan seperti ini membawa konsekuensi besar. Meskipun perasaan dicintai dan dihargai mungkin terasa memuaskan dalam jangka pendek, hubungan tersebut seringkali diselimuti oleh perasaan bersalah, stres, dan keraguan diri yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental.

2. Daya Tarik Pria yang Sudah Berpasangan

Fenomena yang menarik adalah bagaimana pria yang sudah memiliki pasangan sering kali dianggap lebih menarik oleh sebagian wanita.

Ini bukan hanya sekadar persepsi sosial, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme psikologis dan biologis tertentu.

Salah satunya adalah kenyataan bahwa pria yang sudah berpasangan dianggap telah "teruji", yang berarti mereka telah membuktikan bahwa mereka memiliki kualitas yang diinginkan oleh wanita lain, seperti kesetiaan dan kemampuan untuk menjalin komitmen.

Secara psikologis, ini menciptakan efek yang dikenal sebagai "mate guarding" atau "machasing" dalam psikologi evolusi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa individu cenderung lebih tertarik pada pasangan yang sudah dipilih atau diterima oleh orang lain, karena pilihan tersebut dianggap sebagai validasi kualitas orang tersebut.

Bagi sebagian wanita, pria yang sudah berpasangan dapat terlihat lebih berharga karena mereka telah melalui seleksi oleh wanita sebelumnya.

Bahkan tanpa disadari, sebagian wanita berpikir bahwa jika seorang pria sudah cukup baik untuk wanita lain, maka dia juga pasti memiliki kualitas yang baik untuk mereka.

Selain itu, pria yang sudah berpasangan sering kali menunjukkan karakteristik tertentu yang dianggap menarik, seperti kedewasaan, stabilitas emosional, atau tanggung jawab.

Mereka mungkin juga lebih berpengalaman dalam menangani konflik atau hubungan jangka panjang, yang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita yang mencari kestabilan dalam hubungan.

3. Kompetisi Sosial dan Dorongan untuk Memenangkan Perhatian

Dalam psikologi, ada teori yang menyebutkan tentang kompetisi sosial, yaitu dorongan yang tidak disadari untuk merasa lebih unggul dibandingkan orang lain.

Dalam konteks hubungan, seorang wanita yang mengetahui bahwa pria yang ia suka sudah memiliki pasangan bisa merasa terdorong untuk mengalahkan wanita tersebut.

Meskipun dorongan ini tidak selalu bersifat sadar, terkadang muncul rasa ingin membuktikan bahwa mereka lebih menarik atau lebih layak dibandingkan wanita yang sudah ada.

Proses ini bisa dilihat sebagai bentuk validasi diri. Dengan memenangkan perhatian pria yang sudah berpasangan, seorang wanita dapat merasa bahwa dirinya memiliki daya tarik atau kemampuan yang luar biasa.

Ini menjadi semacam pembuktian bahwa mereka mampu mengungguli wanita lain, yang pada akhirnya memberikan kepuasan emosional dan meningkatkan ego mereka.

Namun, kompetisi sosial ini seringkali berakar dari ketidakamanan atau rasa kurang percaya diri yang mendalam.

Daripada merasa cukup dengan siapa diri mereka sebenarnya, mereka merasa perlu membandingkan diri dengan orang lain untuk membuktikan keunggulannya.

4. Sensasi dan Euforia dalam Hubungan Terlarang

Hubungan terlarang seringkali memicu sensasi yang berbeda dari hubungan biasa. Ada elemen risiko yang nyata, ketegangan yang konstan, dan rahasia yang harus dijaga.

Semua ini menciptakan kondisi emosional yang intens dan bisa memicu pelepasan adrenalin dalam tubuh. Bagi sebagian orang, kondisi ini memberikan dorongan emosional yang terasa seperti euforia.

Sensasi yang muncul dalam hubungan terlarang seringkali membuat seseorang merasa hidup lebih penuh warna.

Mereka mungkin merasa bahwa tantangan untuk menyembunyikan hubungan atau menjaga rahasia menciptakan dinamika yang jauh dari rutinitas sehari-hari.

Namun, seperti aktivitas ekstrem lainnya, hubungan semacam ini membawa konsekuensi besar yang sering diabaikan oleh mereka yang terlibat.

5. Pengaruh Lingkungan dan Media

Lingkungan sosial dan media juga bisa memengaruhi cara pandang seseorang terhadap hubungan.

Dalam beberapa cerita populer atau drama film, wanita yang menjadi pelakor sering digambarkan sebagai sosok yang menarik, berani, atau bahkan heroik.

Ini bisa memengaruhi cara pandang seseorang, terutama jika mereka sudah memiliki kerentanan emosional sebelumnya.

Selain itu, jika seseorang tumbuh di lingkungan yang kurang menghargai komitmen atau di mana hubungan yang tidak sehat dianggap biasa, maka batasan moral tentang hubungan bisa menjadi kabur.

Ini bisa memengaruhi keputusan seseorang untuk terlibat dalam hubungan yang merusak.

---

Fenomena wanita yang menjadi pelakor tidak bisa disederhanakan hanya pada faktor individu atau karakter dasar seseorang.

Banyak faktor psikologis dan lingkungan yang memengaruhi keputusan ini.

Kebutuhan akan cinta dan pengakuan, daya tarik terhadap pria yang sudah berpasangan, kompetisi sosial, sensasi dalam hubungan terlarang, dan pengaruh lingkungan sosial adalah beberapa alasan yang mendasari perilaku ini.

Meskipun tidak ada yang membenarkan tindakan tersebut, memahami alasan di baliknya bisa membantu kita untuk lebih bijak dalam menyikapi dan tidak terburu-buru menghakimi.

Setiap orang memiliki cerita dan alasan pribadi yang membentuk keputusan mereka, dan memahami hal ini bisa menjadi langkah pertama untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dan saling menghargai. (*)

Editor : Tina Mamangkey
#terlarang #pelakor #wanita #hubungan #pria