GORONTALOPOST - Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana sebuah negara yang tampaknya kaya raya bisa jatuh bangkrut?
Pengelolaan keuangan yang buruk bisa menjerumuskan negara ke dalam jurang kebangkrutan, seperti yang terjadi pada beberapa negara berikut ini. Mari kita simak kisah mereka.
Zimbabwe
Zimbabwe terkenal karena hiperinflasi yang luar biasa. Pada tahun 2008 dan 2009, perekonomian negara mulai runtuh akibat kebijakan Presiden Robert Mugabe yang kontroversial soal distribusi lahan.
Kurangnya pasokan bahan pokok dan keputusan Bank Sentral mencetak uang secara besar-besaran menyebabkan harga barang naik dua kali lipat setiap 24 jam.
Mata uang Zimbabwe pun kehilangan nilai, membuat warga harus membawa bergepok-gepok uang untuk berbelanja.
Pada tahun 2022, pemerintah mencoba mengatasi krisis ini dengan menerbitkan koin emas.
Venezuela
Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, jatuh bangkrut pada tahun 2017.
Ketergantungan pada penjualan minyak membuat ekonomi terguncang saat harga minyak anjlok pada 2016.
Kebijakan pencetakan uang tanpa henti menginduksi situasi, menyebabkan inflasi besar-besaran dan nilai mata uang bolivar jatuh.
Bahkan uang kertas Venezuela sering ditemukan berserakan di jalanan. Beberapa pedagang kreatif memanfaatkan uang tersebut sebagai bahan karya seni.
Nauru
Pada tahun 1980, Nauru adalah negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, berkat ekspor fosfat berkualitas tinggi.
Semua pelayanan publik seperti sekolah dan rumah sakit gratis untuk masyarakat.
Namun, kekayaan tersebut hilang ketika fosfat habis pada tahun 2001 dan pendapatan hanya dihambur-hamburkan oleh pemerintah tanpa investasi.
Pada tahun 2002, Nauru gagal membayar utang ke Australia dan kini harus bergantung pada bantuan internasional.
Sri Lanka
Pada tahun 2022, Sri Lanka bangkrut akibat utang luar negeri yang sangat besar dan kemerosotan sektor pariwisata.
Kurangnya mata uang dolar untuk impor barang-barang pokok menyebabkan inflasi yang tidak terkendali.
Warga mengalami kekurangan makanan dan obat-obatan serta pemadaman listrik.
Krisis ini memicu peningkatan demo besar-besaran yang berakhir dengan pengunduran diri pemimpin negara.
Argentina
Pada tahun 2001, Argentina mengalami krisis finansial dengan utang 145 miliar dolar AS.
Kebijakan mematok 1 peso setara dengan 1 dolar AS, ditambah dengan utang publik yang tak terkendali dan korupsi, membuat angka kemiskinan melebihi 20%.
Pemerintah membekukan rekening bank dan hanya mengizinkan penarikan 250 dolar per minggu. Krisis ini menyebabkan Argentina berganti presiden empat kali dalam setahun.
Meskipun perekonomian sempat pulih pada tahun 2005, Argentina kembali bangkrut pada tahun 2014 dan 2020.
Sumber: SosialHits
Editor : Tina Mamangkey