GORONTALOPOST - Pada tahun 1609, Joao dos Santos menulis sebuah karya berjudul Ethiopia Oriental 1995, yang diterbitkan berdasarkan pengalamannya selama 11 tahun tinggal di Afrika, khususnya di wilayah Ethiopia.
Saat itu, istilah Ethiopia digunakan untuk merujuk pada seluruh daratan Afrika. Karya Joao dos Santos ini, meskipun berfokus pada Ethiopia, menjadi referensi untuk menggambarkan seluruh wilayah Afrika Timur, termasuk kisah suku Zimba yang terkenal dengan praktik kanibalisme mereka.
Suku Zimba adalah kelompok yang tersebar di beberapa kawasan di Afrika, dengan basis terbesar mereka di wilayah Mozambik dan Zimbabwe saat ini.
Pada abad ke-16, suku ini terkenal tidak hanya karena peperangan mereka dengan pemukim Portugis, tetapi juga karena kebiasaan mereka yang mengerikan—kanibalisme.
Salah satu referensi penting yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa ini adalah jurnal yang ditulis oleh Eric Alina pada tahun 2011 berjudul The Zimba, the Portuguese, and other cannibals in late sixteenth-century Southeast Africa.
Dalam jurnal ini, Alina menjelaskan perjalanan dos Santos dan mencatat sebuah peristiwa mengerikan yang terjadi selama masa tinggalnya di sana.
Kehidupan di Sena: Kanibalisme sebagai Praktik Sehari-hari
Pada abad ke-16, dos Santos tinggal di Sena, sebuah permukiman Portugis di lembah Sambezi.
Di sana, ia menemukan kenyataan yang sangat berbeda dari apa yang ia harapkan. Komunitas yang tinggal di Sena dikenal dengan sebutan "Mujimba Kafir" atau lebih populer dengan nama "Zimba". Mereka terkenal dengan kebiasaan kanibalisme yang mengerikan.
Bukan hanya orang-orang yang kalah dalam pertempuran yang menjadi korban, tetapi juga tawanan yang sudah tidak berguna lagi, terutama mereka yang sudah tua atau sakit.
Praktik kanibalisme suku Zimba bahkan melampaui batasan yang menakutkan.
Mereka tidak hanya memakan daging lawan mereka yang tewas dalam pertempuran, tetapi juga tawanan mereka ketika mereka sudah tua dan tidak lagi layak untuk bekerja, tak sampai disitu mereka juga menjual daging manusia yang tersisa di pasar.
Lebih mengerikan lagi, mereka melakukan ritual meminum darah dari tengkorak musuh yang telah dibunuh.
Ketika orang-orang Zimba sendiri terluka dalam pertempuran atau jatuh sakit kawanan Zimba lainnya akan membunuh dan memakan mereka. Konon mereka melakukan itu agar mereka tidak menanggung tugas untuk menyembuhkan yang sakit.
Ini adalah bagian dari kepercayaan dan kebiasaan yang mengerikan yang membuat suku Zimba menjadi salah satu kelompok yang paling ditakuti di kawasan tersebut.
Peperangan dengan Portugis dan Serangan yang Mengguncang
Pada tahun 1592, suku Zimba melakukan serangan terhadap komunitas Afrika yang berada di seberang benteng Portugis di Sena.
Mereka tidak hanya berperang dengan pemukim Portugis dan merebut tanah mereka, tetapi juga melakukan pembantaian terhadap banyak orang Afrika.
Pemimpin orang-orang Afrika yang diserang, yang juga merupakan sekutu baik bagi Portugis, mendekati kapten benteng Sena untuk meminta bantuan.
Kapten Andre Desain Tiago menyetujui permintaan tersebut dan mengumpulkan tentara Portugis untuk membantu mengusir suku Zimba.
Namun, ketika pasukan Portugis mencapai kamp Zimba, mereka mendapati bahwa pasukan Zimba telah meninggalkan lokasi mereka.
Pasukan Portugis kemudian mendirikan kemah dan mengirimkan bala bantuan dari benteng lain di TT, lebih jauh di atas sungai Sambesi. Bala bantuan ini terdiri dari lebih dari 100 tentara Portugis dan afroh Portugis yang bersenjata.
Sayangnya, informan Zimba mengetahui rencana Portugis dan memberi tahu mereka mengenai kedatangan pasukan tersebut.
Pada malam hari, tentara Zimba menyerang pasukan Portugis secara tiba-tiba, dengan kekuatan yang sangat besar. Dalam waktu singkat, hampir seluruh pasukan Portugis tewas, tanpa ada yang selamat.
Setelah membunuh, suku Zimba memotong kaki dan tangan para korban, lalu membawa barang-barang yang mereka curi kembali ke benteng mereka.
Kejadian ini sangat mengejutkan dan membuat pasukan Afrika yang mencoba mengejar mereka hanya menemukan mayat-mayat tanpa kepala.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kekejaman yang dilakukan oleh suku Zimba terhadap siapa saja yang mereka anggap musuh.
Meskipun suku Zimba terkenal karena kekejaman mereka dan kemampuan bertempur yang luar biasa, akhirnya mereka harus menghadapi kenyataan pahit.
Dengan kekuatan militer dan persenjataan yang lebih maju, orang-orang eropa mampu mendominasi. Setelah pertempuran yang berlarut-larut, akhirnya suku Zimba dapat ditaklukkan. (*)
Sumber: Nat Geo Indonesia
Editor : Tina Mamangkey