Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

8 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpura-pura Sibuk, Menurut Ahli Psikologi

Tina Mamangkey • Selasa, 17 Desember 2024 | 20:04 WIB
Ilustrasi, Ciri kepribadian orang yang berpura-pura lebih sibuk.
Ilustrasi, Ciri kepribadian orang yang berpura-pura lebih sibuk.

GORONTALOPOST - Pernahkah bertemu seseorang yang selalu tampak sibuk dengan jadwal padat dan keluhan tentang banyaknya pekerjaan?

Kalimat seperti “Waktuku benar-benar habis!” atau “Aku kewalahan!” sering terdengar dari mereka.

Namun, psikologi mengungkap bahwa kesibukan ini sering kali bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan cara mereka menampilkan diri agar terlihat lebih penting atau bernilai.

Berikut adalah 8 ciri kepribadian orang yang berpura-pura lebih sibuk dari kenyataan, menurut psikologi.

1. Mencari Validasi dari Orang Lain

Salah satu alasan orang berpura-pura sibuk adalah keinginan mendalam untuk mendapatkan validasi dari lingkungan sekitar.

Hal ini umumnya muncul akibat kurangnya rasa percaya diri atau harga diri yang rendah. Mereka merasa perlu menunjukkan bahwa mereka “dibutuhkan” dan “penting” agar mendapatkan pengakuan.

Dengan kesibukan yang dipertontonkan, mereka berharap dianggap sukses dan berharga. Namun, perilaku ini sebenarnya lebih mencerminkan ketidakamanan dalam diri mereka sendiri.

2. Takut Menghadapi Waktu Luang

Bagi sebagian orang, waktu luang justru bisa menakutkan. Tidak memiliki kegiatan berarti harus berhadapan dengan pikiran dan refleksi diri yang mungkin tidak nyaman.

Ketakutan ini mendorong mereka untuk menciptakan kesibukan yang tidak perlu.

Studi psikologi bahkan menunjukkan bahwa sebagian orang lebih memilih memberikan sengatan listrik pada diri mereka daripada duduk diam selama 15 menit tanpa melakukan apa pun.

Hal ini menunjukkan bahwa waktu hening sering kali menjadi hal yang sulit diterima oleh orang-orang yang “sok sibuk”.

3. Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Orang yang selalu terlihat sibuk sering kali sebenarnya sedang menunda-nunda pekerjaan penting. Alih-alih menghadapi tugas yang sulit atau tidak menyenangkan, mereka memilih mengalihkan perhatian pada hal-hal lain yang tampak produktif.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai “pengaturan emosi”, di mana seseorang menggunakan kesibukan sebagai pelarian dari perasaan cemas atau tidak nyaman.

Dengan berpura-pura sibuk, mereka merasa dapat menunda tugas tanpa terlihat malas atau tidak kompeten.

4. Perilaku Mencari Perhatian

Beberapa orang menggunakan kesibukan sebagai cara untuk menarik perhatian. Hal ini bukan selalu tindakan manipulatif, melainkan seruan tersembunyi untuk diakui dan dihargai.

Dengan menunjukkan betapa sibuknya mereka, perhatian dari orang lain—baik berupa simpati maupun kekaguman—dapat meningkatkan harga diri mereka.

Bagi mereka, kesibukan adalah cara untuk merasa “dilihat” dan “penting” di mata orang lain.

5. Keinginan untuk Mengendalikan Segalanya

Mengisi jadwal hingga penuh sering kali dilakukan oleh orang yang ingin menciptakan rasa kontrol dalam hidupnya.

Dengan merencanakan setiap menit dan memastikan mereka selalu punya sesuatu untuk dilakukan, mereka merasa lebih aman dan terkendali.

Di balik kebiasaan ini biasanya tersembunyi rasa takut akan ketidakpastian, perubahan, atau kehilangan kendali. Menjadi “sibuk” adalah cara mereka untuk mempertahankan ketertiban dalam hidup yang tampaknya kacau dan tak terduga.

6. Berjuang dengan Harga Diri  

Banyak orang yang mengaitkan harga diri mereka dengan seberapa produktif mereka. Jika tidak memiliki kegiatan atau pencapaian, mereka merasa tidak bernilai. Hal ini mendorong mereka untuk selalu mencari kesibukan agar terlihat produktif dan berhasil.

Namun, kebiasaan ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, seperti stres kronis atau kelelahan.

Psikologi mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kesibukan atau pencapaiannya semata, melainkan dari keberadaannya itu sendiri.

7. Takut Ketinggalan (FOMO)

Fenomena “Fear of Missing Out” (FOMO) menjadi salah satu alasan kuat mengapa seseorang berpura-pura sibuk.

Mereka merasa cemas jika tidak ikut terlibat dalam berbagai kegiatan, proyek, atau acara, seolah-olah tertinggal dibandingkan orang lain.

Ketakutan ini mendorong mereka untuk selalu terlihat aktif di berbagai kesempatan, meskipun sebenarnya tidak terlalu produktif. Namun, sikap ini sering kali hanya berujung pada kelelahan dan kejenuhan.

8. Kesulitan Menetapkan Batasan

Orang yang berpura-pura sibuk sering kali kesulitan mengatakan “tidak” terhadap permintaan atau ajakan orang lain.

Mereka khawatir akan mengecewakan, kehilangan kesempatan, atau bahkan menghadapi konflik jika menolak sesuatu.

Akibatnya, mereka cenderung menerima terlalu banyak tanggung jawab hingga akhirnya kewalahan sendiri.

Padahal, kemampuan menetapkan batasan yang sehat sangat penting untuk menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental.

---

Berpura-pura sibuk bukanlah tentang jadwal yang padat, melainkan cerminan dari perasaan tidak aman, takut waktu luang, atau bahkan kebutuhan untuk diakui oleh orang lain.

Kesibukan yang berlebihan justru dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan kehidupan sosial.

Memahami alasan di balik perilaku ini dapat membantu kita bersikap lebih empati terhadap orang-orang tersebut, sekaligus mendorong diri sendiri untuk menetapkan batasan yang lebih sehat dan menerima bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat sejenak. (bsl)

Editor : Tina Mamangkey
#ciri kepribadian #psikologi #Ciri Orang #Berpura-pura #kepribadian #sibuk