Remaja zaman sekarang makin sulit lepas dari internet. Mulai dari scrolling TikTok, main game online, sampai begadang nonton YouTube, semuanya jadi kebiasaan harian.
Tapi siapa sangka, terlalu sering online bisa mengubah cara kerja otak mereka.
Penelitian terbaru dari University College London (UCL) dan Great Ormond Street Institute of Child Health menemukan bahwa kecanduan internet berdampak langsung pada struktur otak remaja.
Dengan menggunakan teknologi pemindaian otak atau fMRI, para ilmuwan menemukan perubahan besar pada bagian otak yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan.
Remaja yang terlalu sering online cenderung memiliki koneksi otak yang lebih lemah di area korteks prefrontal, yang berfungsi mengatur impuls dan fokus.
Menurut para peneliti, hal ini membuat mereka lebih mudah impulsif, cepat marah, atau sulit menahan keinginan.
Perilaku impulsif ini misalnya seperti langsung beli sesuatu online tanpa berpikir, atau sulit berhenti main meskipun sudah dilarang.
Kondisi ini mirip dengan efek kecanduan seperti narkoba atau alkohol, hanya saja yang membuat kecanduan adalah internet.
Kecanduan internet disebut juga sebagai Internet Addiction Disorder (IAD) dalam dunia psikologi modern.
Dilansir dari The Guardian, remaja yang kecanduan internet juga mengalami penurunan fungsi pada area otak yang mengatur emosi.
Artinya, mereka bisa lebih sering merasa cemas, sedih, atau marah tanpa alasan yang jelas.
Efek ini lebih tinggi ditemukan pada pengguna aktif media sosial yang sering membandingkan diri dengan orang lain.
Menurut UCL, salah satu faktor pemicu utama IAD adalah akses tanpa batas terhadap internet tanpa pengawasan orang tua.
Selain itu, penggunaan smartphone saat malam hari juga memperparah efeknya karena mengganggu pola tidur dan regenerasi otak.
Peneliti menyarankan agar waktu layar pada remaja dibatasi maksimal 2 jam per hari di luar waktu belajar.
Tak hanya itu, remaja juga disarankan lebih sering melakukan aktivitas fisik dan interaksi sosial langsung.
Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah digital detox, yaitu jeda dari semua aktivitas online selama beberapa waktu tertentu.
Terapi mindfulness digital juga bisa dilakukan, yaitu latihan kesadaran diri untuk mengatur waktu dan emosi saat online.
Keluarga dan sekolah punya peran penting untuk mengenali gejala awal kecanduan internet ini.
Gejala umum seperti susah tidur, mudah marah, malas belajar, dan menutup diri bisa jadi tanda-tanda awal.
Jika dibiarkan, dampaknya bisa lebih serius: mulai dari gangguan konsentrasi hingga depresi berat.
Dengan kesadaran yang tepat, kita bisa cegah generasi muda dari bahaya digital yang tidak terlihat namun nyata.
Baca Juga: Manfaat Handuk Pengering Rambut dan Ragam Serinya, dari Mikrofiber Sampai Berbahan Katun
(at)
Editor : Priska Watung