Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Simbol Viking Disalahgunakan: Begini Kelindan Norse Mythology dengan Ideologi Keganasan Modern

Priska Watung • Senin, 14 Juli 2025 | 08:00 WIB

Valknut ancient pagan Nordic Germanic symbol, isolated on black, vector illustration
Valknut ancient pagan Nordic Germanic symbol, isolated on black, vector illustration

GORONTALOPOST - Simbol-simbol dari mitologi Viking yang dulu identik dengan kisah dewa-dewi dan para pejuang kini justru berubah makna.

Kelompok ekstremis modern, khususnya dari golongan supremasi kulit putih, mulai memakai simbol Norse untuk menyebarkan ideologi kebencian.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Eropa, tapi juga di Amerika dan beberapa negara lain yang sedang bergulat dengan isu ekstremisme.

Simbol seperti Valknut, Othala Rune, dan kalimat “See You in Valhalla” sering ditemukan dalam manifesto pelaku kekerasan.

Dilansir dari The Conversation, pelaku penembakan Buffalo, Payton Gendron, menutup manifestonya dengan ucapan “See you in Valhalla” yang merujuk pada dunia setelah kematian dalam mitologi Norse.

Ini menunjukkan bahwa mitos kuno kini dimaknai sebagai panggilan untuk “mati dalam perang” demi ideologi mereka.

Sementara menurut The Times, simbol seperti Yggdrasil dan Ragnarök digunakan untuk membangun narasi “kiamat budaya” yang memicu semangat perang terhadap ras lain.

Simbol-simbol ini diromantisasi sebagai lambang “perjuangan ras Arya” yang terancam punah.

Baca Juga: Qilin: Pelajaran Kebajikan dan Kekuatan dari Mitologi Tiongkok

Beberapa kelompok bahkan menyebar meme Viking dengan nada militan di media sosial, menggabungkan lambang mitologi dengan senjata modern.

Tujuan mereka adalah menarik simpati kaum muda yang merasa terasing, dan menyuntikkan rasa identitas palsu lewat mitos kuno.

Menurut University of Alberta, ini adalah bentuk penyimpangan sejarah, karena fakta arkeologi justru menunjukkan bahwa bangsa Viking sangat multikultural.

Viking dulunya berdagang dan menikah lintas budaya, bahkan DNA mereka tidak murni berasal dari ras utara saja.

Namun, kelompok ekstremis memilih menolak fakta dan hanya mengambil bagian cerita yang cocok untuk propaganda mereka.

Simbol Norse ini lalu dipakai dalam tato, bendera, hingga baju militer yang mereka gunakan saat demo kekerasan.

Di dalam penjara, narasi ini makin menyebar karena memberikan “rasa makna” pada narapidana yang ingin terlihat berani atau punya prinsip.

Bahaya dari penyalahgunaan ini adalah publik sulit membedakan antara orang yang hanya menyukai mitologi dengan yang punya agenda ekstrem.

Padahal, banyak komunitas pecinta Norse Mythology yang hanya ingin belajar sejarah atau menikmati cerita fantasi.

Namun karena simbol ini dicap “berbahaya”, mereka juga ikut terdampak dalam stigma negatif.

Solusi dari masalah ini bukan melarang simbolnya, tapi mengedukasi publik bahwa mitologi tidak bisa dijadikan pembenaran untuk kekerasan.

Menghormati budaya masa lalu harus disertai tanggung jawab dan pemahaman yang benar, bukan dijadikan senjata politik.

(rm)

Editor : Priska Watung
#RadikalismeModern #Viking #NorseMythology #Valhalla #Ekstremisme