GORONTALOPOST - Mak Lampir, nama ini sudah lama bikin merinding warga dari Sumatera sampai Jawa.
Tapi siapa sangka, sosok ini dulu dipercaya adalah seorang wanita bangsawan dari negeri jauh: Kerajaan Champa.
Menurut cerita rakyat yang dilansir dari Kabar Banten, nama aslinya adalah Siti Lampir Maimunah, putri cerdas dan cantik dari Champa yang dikenal ahli dalam ilmu pengobatan dan spiritual.
Ia merantau ke wilayah Minangkabau, Sumatera Barat, untuk mendalami ilmu mistik dari para guru sakti di Gunung Marapi.
Namun keinginan belajar itu berubah saat ia jatuh cinta pada seorang pendekar sakti, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.
Karena patah hati dan rasa kecewa, Siti Lampir konon memilih jalan gelap dan mendalami ilmu hitam demi membalas dendam.
Ia pun dikenal sebagai Mak Lampir, sosok gaib berwajah tua, bersuara serak, dan berjubah hitam pekat.
Cerita ini berkembang dari daerah Minang, lalu menyebar ke Jawa dan dikaitkan dengan Gunung Merapi.
Baca Juga: Menguak Misteri, 3 Tanggal Lahir Kesukaan Nyi Roro Kidul Ratu Pantai Selatan
Di Jawa, masyarakat mulai mengenal Mak Lampir sebagai penghuni jalur gaib Gunung Merapi, penjaga batas antara alam nyata dan alam ghaib.
Beberapa pendaki bahkan mengaku mendengar tawa melengking dari balik kabut atau mencium aroma bunga menyengat di tengah malam.
Dilansir dari Liputan6, warga di sekitar lereng Merapi percaya bahwa Mak Lampir kerap muncul menjelang bencana sebagai peringatan.
Sosoknya pun dijadikan simbol bahwa alam tidak boleh dirusak dan ilmu sakti tidak boleh dipakai untuk balas dendam.
Yang membuat menarik, kisah Mak Lampir terus berubah seiring waktu dan berkembang di berbagai media.
Serial TV Misteri Gunung Merapi di tahun 1990-an membuat sosok ini semakin populer, bahkan jadi ikonik di kalangan anak-anak hingga dewasa.
Namun banyak yang tidak tahu bahwa cerita dalam sinetron itu hanyalah adaptasi fiksi dari legenda rakyat yang telah berkembang turun-temurun.
Menurut Timenews, Mak Lampir adalah contoh bagaimana mitos bisa menjadi sarana pendidikan moral dan peringatan akan batas kekuasaan manusia.
Cerita Mak Lampir juga sering muncul saat malam Jumat Kliwon atau di tengah ritual adat di kaki gunung.
Warga percaya bahwa menyebut namanya sembarangan bisa mengundang gangguan halus, apalagi saat berada di tempat sakral.
Kini, kisah Mak Lampir tak hanya jadi cerita horor, tapi juga menjadi bagian penting dari budaya lokal dan warisan cerita rakyat Indonesia.
Legenda ini mengajarkan bahwa cinta, dendam, dan kekuasaan bisa mengubah hidup seseorang—bahkan melampaui dunia nyata.
(rm)
Editor : Priska Watung