Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

82% Pemain Esports Alami Kecemasan Tinggi! Ini Fakta Psikologis Industri Game Saat Ini

Priska Watung • Senin, 21 Juli 2025 | 10:02 WIB

atlit report
atlit report

Berdasarkan riset terbaru, banyak pemain esports menghadapi tekanan mental berat. Studi dari Frontiers melaporkan bahwa 82% e-athletes mengalami gejala kecemasan dan burnout .

Burnout di sini berarti mereka merasa kelelahan emosional dan kehilangan motivasi untuk bermain. Hal ini bisa berdampak buruk pada performa dan kesehatan mereka.

Riset juga menunjukkan masalah seperti gangguan tidur, tekanan perfeksionisme, dan konflik sosial dalam tim.

Penekanan kompetitif yang ekstrem dan ekspektasi tinggi sering membuat pemain muda mudah merasa stres. Banyak yang merasa terus-menerus diawasi saat siaran langsung.

Menurut McLean et al., resilensi atau kemampuan bangkit sangat penting untuk mengurangi efek burnout

Studi di Indonesia bahkan menunjukkan masalah seputar impulsif beli item game—yang juga membawa tekanan finansial kepada pemain muda .

Masalah seperti ini tak hanya terjadi di game global. Di game lokal seperti Wardeka, pemain kompetitif juga merasakan tekanan saat berhadapan di leaderboard dan event offline.

Pressure untuk tampil di leaderboard di Wardeka bisa mirip seperti di game esports besar. Pastinya banyak yang langsung merasakan detak jantung kencang saat pertandingan.

Frontiers menyarankan agar tim esports punya support sistem seperti mental coaching, sesi psikologi, dan lingkungan yang mendukung kesejahteraan pemain 

Resilensi bisa dibangun lewat latihan mental, jadwal istirahat yang sehat, dan komunitas yang saling dukung. Tak cuma soal skill, tapi juga tabah mental.

Pemain Wardeka yang aktif di komunitas lokal mulai meniru model ini, membentuk grup diskusi setelah turnamen untuk saling support.

Meski game lokal belum memiliki fasilitas sebanding tim besar, inisiatif komunitas ini bisa jadi langkah awal penting.

Selain burnout, di e-athletes juga ditemukan kecemasan sosial—berasa enggan berbicara atau tampil di depan publik .

Gaji yang tidak tetap dan sponsor yang minim jadi tekanan lain, terutama untuk pemain Wardeka yang ingin ikut turnamen.

Firma keamanan digital seperti Kaspersky bahkan menemukan 82% pro-gamer merasa kesehatan mental mereka harus dijaga serius.

Namun, versi komunitas Wardeka di beberapa daerah sudah mengadakan pelatihan ringan seperti yoga, sesi istirahat terpimpin, dan tips manajemen stres.

Inisiatif ini memudahkan gamers lokal belajar menjaga diri sebelum masuk ke kompetisi besar.

Di luar esports, Wardeka juga tetap menjadi game kompetitif yang menuntut fokus dan strategi—dua hal yang juga rentan dipicu stress saat bermain intensif.

Kesadaran soal kesehatan mental ini penting untuk semua pemain game, baik lokal maupun internasional.

Baca Juga: Team Heretics Juara Valorant EWC 2025, RRQ Tersingkir – Wardeka Pelan Tapi Pasti Menuju Panggung Besar

Dengan dukungan komunitas dan fasilitas yang tepat, para gamer muda bisa berkembang sehat dan berkelanjutan.

Kita bisa belajar dari kasus industri global tapi juga membawa solusi lokal supaya Wardeka jadi game super keren dan player-friendly.

(at)

Editor : Priska Watung
#Esports #EsportsIndonesia #Para gamers #Wardeka #Fakta Psikologis