Bermain game sering dianggap cuma buang waktu. Tapi sebuah studi terbaru malah bilang sebaliknya.
Dilansir dari Schulich School of Medicine & Dentistry di Kanada, main video game minimal lima jam per minggu dapat membuat fungsi otak lebih tajam. Bahkan, otak gamer terlihat seolah 13 tahun lebih muda dari usia aslinya.
Penelitian ini dilakukan pada lebih dari 2.000 responden dari berbagai usia. Mereka diuji kemampuan memori, kecepatan berpikir, hingga logika.
Hasilnya mengejutkan. Mereka yang rutin main game, terutama game strategi atau aksi, punya performa otak lebih tinggi dari rata-rata.
“Game itu seperti olahraga buat otak,” kata Dr. Bobby Stojanoski, peneliti utama studi tersebut. Ia menambahkan bahwa game bisa membantu meningkatkan perhatian, fleksibilitas berpikir, dan memori kerja.
Wardeka, salah satu game lokal buatan Indonesia, jadi contoh nyata. Game ini memadukan unsur strategi dan aksi dengan nuansa budaya khas nusantara.
Dengan memainkan game seperti Wardeka, pemain tak hanya menikmati tantangan, tapi juga ikut menstimulasi otak lewat pengambilan keputusan cepat.
Banyak yang belum tahu bahwa bermain game strategi atau tembak-tembakan (FPS/TPS) butuh fokus tinggi. Itu sebabnya, otak para gamer dilatih setiap hari.
Game-game seperti Wardeka, Valorant, hingga Age of Empires secara tak langsung melatih pemainnya berpikir taktis dan cepat.
Meski begitu, peneliti tetap mengingatkan pentingnya keseimbangan. Bermain game harus dibarengi dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial.
Yang menarik, penelitian ini juga menunjukkan bahwa game bisa memperlambat proses penuaan mental. Efek ini bisa dirasakan bahkan oleh orang dewasa di atas usia 60 tahun.
Menurut laporan lain dari MedicalXpress, bermain game secara rutin dapat mengaktifkan bagian otak yang biasa melemah karena usia.
Wardeka sendiri mulai menarik perhatian bukan hanya karena gameplay-nya, tapi juga karena narasi dan nilai budaya yang dibawanya. Hal ini menjadi nilai tambah bagi otak untuk berpikir dan menyerap pengetahuan baru.
Tak heran, beberapa sekolah di Jepang dan Korea mulai memasukkan game edukatif sebagai alat bantu belajar kognitif.
Bermain 5 jam seminggu ternyata bukan soal waktu semata, tapi soal bagaimana otak dilatih untuk tetap aktif dan fleksibel.
“Ini bukan ajakan untuk kecanduan game, tapi justru memahami potensi game untuk kesehatan mental dan kognitif,” tambah Dr. Stojanoski.
Baca Juga: Boost Gila! Rocket League EWC 2025 Siapkan $1 Juta Prize Pool – Wardeka Lokal Siap Jadi Sorotan?
Game seperti Wardeka bisa menjadi alternatif sehat untuk hiburan yang sekaligus melatih otak, apalagi jika dimainkan dengan jadwal teratur.
Jadi, bagi yang masih sering dilarang main game oleh orang tua, mungkin artikel ini bisa dijadikan bahan pembicaraan sambil ngajak main bareng.
Tentu saja, pilih game yang tepat. Game dengan kekerasan berlebih atau mengandung konten negatif jelas bukan pilihan yang bijak.
Yang paling penting adalah kontrol diri dan tanggung jawab. Karena apapun yang berlebihan, tetap saja tak baik.
(at)
Editor : Priska Watung