Penelitian terbaru menunjukkan bahwa otak orang yang optimis punya pola aktivitas yang hampir sama, sementara otak para pesimis malah lebih unik dan beragam.
Dilansir dari Scientific American, para ilmuwan melakukan pemindaian otak (fMRI) kepada puluhan partisipan dan menemukan bahwa optimis punya pola kerja otak yang serupa saat membayangkan masa depan.
Bagian otak yang paling aktif adalah medial prefrontal cortex (MPFC), yaitu area yang berperan dalam membuat rencana, harapan, dan memikirkan masa depan.
Menurut Nature, bagian otak ini bekerja seperti “pemutar film masa depan” — dan bagi para optimis, filmnya sering kali punya cerita bahagia yang mirip-mirip satu sama lain.
Sebaliknya, otak pesimis justru punya "alur film" yang berbeda-beda. Setiap orang pesimis memikirkan masa depan dengan cara yang sangat unik.
Dilansir dari IFLScience, pesimis cenderung membayangkan masa depan yang lebih gelap, tidak pasti, dan kadang malah penuh bencana—dan setiap orang punya versinya sendiri.
Hal ini bikin para ilmuwan berpikir bahwa optimisme punya pola yang lebih terorganisir, sedangkan pesimisme lebih liar dan tidak terkontrol.
Penelitian ini penting karena bisa membantu dunia psikologi memahami cara orang melihat hidup dan menghadapi tantangan.
Dengan memahami cara kerja otak orang optimis dan pesimis, kita juga bisa belajar bagaimana membantu mereka lebih baik, apalagi yang sedang mengalami stres atau kecemasan.
Misalnya, dalam terapi kognitif, kita bisa bantu orang pesimis untuk mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan agar lebih sehat secara mental.
Para peneliti juga menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan jadi pesimis. Justru pemikiran pesimis sering kali realistis dan bisa jadi perlindungan diri.
Namun, kalau pesimisme terlalu ekstrem, bisa membuat seseorang sulit bahagia dan takut mencoba hal baru.
Sebaliknya, optimisme yang terlalu tinggi juga bisa berbahaya, karena bisa membuat orang jadi lengah dan tidak waspada.
Yang terbaik adalah punya keseimbangan: tetap optimis, tapi juga realistis terhadap risiko yang ada.
Studi-studi ini juga membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi seperti AI dalam membaca dan memetakan emosi manusia dari pola otak.
Bayangkan saja, suatu hari nanti kita bisa tahu apakah seseorang sedang pesimis atau optimis hanya dari rekaman otaknya!
Para ilmuwan masih akan melakukan penelitian lanjutan dengan peserta yang lebih banyak dan latar belakang berbeda.
Mereka ingin tahu apakah pola ini berlaku di seluruh budaya dan usia, atau hanya pada kelompok tertentu saja.
Penelitian ini juga bisa digunakan dalam dunia pendidikan dan kerja, untuk membantu orang membuat keputusan dan merencanakan masa depan.
Kesimpulannya, otak optimis itu seperti grup WhatsApp yang isinya semua punya rencana bahagia yang sama, tapi otak pesimis itu seperti koleksi cerita random yang beda-beda!
Bukan soal siapa yang lebih baik, tapi bagaimana kita bisa memahami diri sendiri dan orang lain lebih dalam. (hand)
Editor : Priska Watung