Peneliti berhasil menemukan cara baru untuk mengukur seberapa banyak makanan cepat saji yang kita konsumsi, cukup lewat sampel darah atau urin.
Penemuan ini bukan ramalan atau tebak-tebakan, tapi hasil dari penelitian ilmiah serius yang dilakukan oleh tim ahli dari Amerika Serikat.
Menurut studi yang dipublikasikan oleh PLOS Medicine, metabolit dalam darah dan urin bisa menunjukkan seberapa besar seseorang mengonsumsi ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-proses.
UPF adalah makanan olahan tinggi yang biasanya kaya akan gula, lemak jenuh, dan zat aditif. Contohnya seperti burger cepat saji, mi instan, dan sereal instan.
Yang bikin ngeri, ternyata semakin banyak kadar metabolit tertentu, berarti makin tinggi pula konsumsi makanan instan kita sehari-hari.
Para ilmuwan dari National Cancer Institute menyebutkan bahwa mereka berhasil mengidentifikasi lebih dari 30 jenis metabolit yang menunjukkan level konsumsi makanan olahan.
Salah satu peneliti utama, Dr. Carlos Celis-Morales, mengatakan bahwa ini bisa menjadi alat yang sangat akurat untuk memantau kebiasaan makan seseorang secara objektif.
“Selama ini kita mengandalkan survei makanan yang sering kali tidak akurat,” ujar Dr. Carlos dalam keterangannya.
Dengan data metabolit ini, dokter dan ahli gizi bisa memantau pola makan seseorang tanpa harus bertanya satu per satu.
Ini penting banget, apalagi buat mendeteksi risiko penyakit seperti obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi sejak dini.
Yang mengejutkan, anak muda usia 13-18 tahun ternyata jadi kelompok yang paling banyak konsumsi makanan cepat saji.
Dalam data yang dirilis tim penelitian, 58% dari kalori harian kelompok remaja diambil dari makanan ultra-proses.
Kondisi ini dikhawatirkan bisa membuat generasi muda jadi lebih rentan terkena penyakit kronis di usia produktif.
Peneliti menyarankan agar orang tua dan sekolah lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak-anak.
Tapi, jangan salah, nggak semua makanan olahan itu jahat. Beberapa produk seperti susu UHT dan roti gandum masih bisa dikategorikan aman jika dikonsumsi sesuai kebutuhan.
Banyak juga startup dan inovator lokal yang mulai bikin alternatif makanan cepat saji sehat. Misalnya di Indonesia, ada brand makanan sehat siap saji berbasis sayuran organik dan rendah gula.
Hal ini membuktikan bahwa kita tetap bisa makan enak tanpa harus ngorbanin kesehatan.
Baca Juga: Awas! Makanan-Makanan Ini Tampak Aman Tapi Bisa Jadi Sumber Penyakit di Kulkas
Sekarang, dengan bantuan teknologi biomarker seperti metabolit darah ini, semua orang bisa tahu kondisi tubuhnya tanpa ribet.
Langkah ini juga bisa bantu pemerintah buat bikin kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran, termasuk di sekolah-sekolah.
Jadi mulai sekarang, yuk lebih peduli dengan apa yang kita makan, apalagi kalau kamu doyan banget jajan burger tiap sore.
(at)
Editor : Priska Watung