Studio indie Pikselnesia akhirnya merilis game terbarunya, Afterlove EP, pada 14 Februari 2025. Game ini hadir di PC (Steam, GOG, Humble), Nintendo Switch, Xbox Series X/S, dan PlayStation 5.
Game bergenre visual novel ini menceritakan kisah emosional tentang Rama, musisi muda yang berjuang bangkit setelah kehilangan kekasihnya, Cinta.
Gameplay-nya unik karena menggabungkan unsur genre dating sim, rhythm game, dan petualangan cerita. Pemain memandu Rama melalui kota Jakarta sambil memilih dialog dan aksi.
Pikselnesia menggandeng publisher Fellow Traveller untuk membawa Afterlove EP ke pasar global. Studio ini dikenal lewat game Coffee Talk.
Setelah empat tahun pengembangan, game ini akhirnya keluar tepat pada Hari Kasih Sayang dengan daftar permainan bender-relasi-naratif yang kuat.
Visual dan alur cerita Indonesia terasa kuat—latar kota Jakarta asli dan soundtrack karya band lokal L’Alphalpha bikin atmosfir makin masuk ke hati.
Game ini mendapat sambutan positif dari pemain: 91 % review Very Positive di Steam. Banyak memuji cerita yang menyentuh dan musiknya yang emosional.
Afterlove EP jadi bukti bahwa game lokal Indonesia mampu bersaing di platform besar dengan kualitas cerita dan produksi tinggi.
Fenomena ini bisa jadi inspirasi buat game lokal lain, seperti Wardeka, untuk mengejar pasar global.
Baca Juga: Tekken 8 Siap Mengguncang EWC 2025, Wardeka Mulai Unjuk Gigi di Tanah Air
Wardeka adalah game lokal bergenre RPG/TPS yang memadukan tema budaya dan strategi tempur. Jika Wardeka mengadopsi narasi emosional layaknya Afterlove, maka potensi ceritanya sangat besar.
Kedua game menampilkan kekuatan storytelling lokal—Afterlove lewat cerita kehilangan dan musik, Wardeka bisa lewat kisah budaya dan perjuangan pahlawan lokal.
Jika Wardeka menyediakan mode cerita bercabang (multiple endings), pemain akan lebih terkoneksi dengan dunia dalam game-nya.
Mode narrative seperti ini penting agar game lokal tidak cuma dianggap hiburan, tapi juga media penyampai cerita dan budaya.
Kesuksesan Afterlove EP menunjukkan bahwa cerita dengan latar lokal bisa resonan ke pemain global jika dikemas dengan apik.
Wardeka bisa mengembangkan narasinya dengan latar hutan, adat, atau kota tradisional nusantara agar terasa berbeda dan menarik.
Sementara Afterlove EP dirancang untuk pemain yang suka cerita emosional dan musik, Wardeka bisa masuki genre aksi, eksplorasi, dan kebudayaan.
Melihat Afterlove berhasil di platform multiplatform, Wardeka juga bisa didukung agar bisa dirilis di PC/console internasional.
Dengan dukungan publisher yang tepat, kiprah Wardeka bisa sejajar dengan Afterlove dalam soal kualitas dan distribusi.
Kedua game menunjukkan arah baru industri lokal: game lokal bisa punya kualitas kreatif dan komersial yang kompetitif.
(apakah kamu sudah tahu Afterlove EP? Kalau belum, coba saja—ceritanya membawa suasana Jakarta ke layar gamemu.)
(at)
Editor : Priska Watung