GORONTALOPOST - Apa jadinya jika pembaruan yang seharusnya menyelamatkan, malah tak cukup untuk mencegah bencana? Itulah yang kini dirasakan oleh pengguna Google Pixel 6a, setelah satu unit ponsel ini dilaporkan meledak meskipun telah menjalani update pengaman baterai dari Google.
Pixel 6a, yang dirilis pada 2022 dan sempat mendapat pujian karena performanya yang tangguh dengan harga terjangkau, kini malah menjadi momok bagi pemiliknya. Awal Juli lalu, Google merilis patch bulanan yang secara drastis membatasi kapasitas dan kecepatan pengisian baterai pada Pixel 6a yang telah melewati 400 siklus pengisian. Tujuannya: mengurangi risiko kebakaran baterai.
Namun, kebijakan itu belum tentu ampuh. Seorang pengguna Reddit dengan nama /u/footymanageraddict membagikan foto mengenaskan: tumpukan logam hangus yang dulunya adalah Pixel 6a miliknya. Parahnya, ponsel tersebut sudah mendapat pembaruan keamanan baterai sebelum insiden terjadi.
Kronologi Ledakan Pixel 6a:
-
Ponsel dibiarkan terhubung semalaman dengan charger standar USB-PD (dari Steam Deck).
-
Pemilik terbangun karena bau menyengat dan asap.
-
Berhasil melempar ponsel sebelum api menyebar.
-
Rumah selamat, tapi ponsel hangus total.
Ironisnya, ponsel ini seharusnya sudah "aman" karena mengikuti program Battery Performance Program dari Google. Namun kejadian ini malah memicu kekhawatiran: apakah update ini benar-benar efektif, atau hanya cara Google menghindari tanggung jawab hukum?
Masalah lain muncul ketika pemilik ponsel mencoba mengganti baterai—layanan tidak tersedia di negaranya, dan proses pengiriman ke pusat layanan bisa makan waktu berminggu-minggu. Google memang menawarkan kompensasi: $100 tunai atau $150 dalam bentuk kredit toko, tapi jelas tidak cukup untuk membeli pengganti yang setara.
Masalah yang Dihadapi Pengguna Pixel 6a:
-
Risiko kebakaran baterai meskipun sudah di-update.
-
Baterai dibatasi sehingga daya tahan sangat berkurang.
-
Penggantian baterai sulit atau tidak tersedia di beberapa negara.
-
Kompensasi Google dinilai tidak layak menggantikan risiko dan kerugian.
Pengguna kini menghadapi dilema: terus menggunakan perangkat yang sudah "dihambat" dan berisiko, atau keluar uang sendiri untuk membeli ponsel baru. Ini membuat banyak orang merasa Google hanya melakukan tindakan minimum untuk menutup celah hukum, alih-alih benar-benar melindungi konsumennya.
Google sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Tapi satu hal jelas—kepercayaan pengguna terhadap keamanan perangkat mereka mulai retak.
(HL)
Editor : Priska Watung