Generasi sekarang memang paling terbuka soal kesehatan mental, namun kenyataannya hampir setengah dari mereka pernah didiagnosis gangguan mental.
Menurut survei Harmony Healthcare IT, 46% Gen Z telah menerima diagnosis kondisi kesehatan mental, dengan kecemasan sebagai diagnosis paling umum.
Lebih dari sepertiga—sekitar 37% percaya mereka memiliki kondisi mental tanpa diagnosis resmi. Banyak yang mulai mencari bantuan lewat telemedicine atau layanan virtual.
Generasi ini tumbuh di era digital—mereka menghabiskan rata-rata 6 jam 27 menit sehari di ponsel dan 78% merasa ketergantungan media sosial.
Studi McKinsey menunjukkan bahwa media sosial punya dua wajah: bisa membantu kejelasan diri, tapi juga memicu FOMO atau rasa tidak cukup.
Sekitar 46% Gen Z juga melaporkan merasa stres atau cemas hampir setiap hari, penelitian Deloitte Global menegaskan level tekanan itu nyata dan intens.
Konsekuensinya? Banyak juga yang mengalami pola tidur buruk, mood swing, dan kesulitan konsentrasi—ini bukan masalah kecil.
Data lain dari Harmony Healthcare IT menyebut 53% Gen Z mengalami gangguan tidur karena stres, sementara 49% kesulitan fokus dan 45% sering menolak berkumpul sosial.
Fenomena doomscrolling alias scrolling konten negatif nonstop ternyata lebih berbahaya daripada yang dibayangkan—menyebabkan kecemasan hingga gangguan konsentrasi.
Studi Cambridge pun membuktikan bahwa remaja dengan kondisi mental menghabiskan sekitar 50 menit lebih banyak di medsos, dengan kecenderungan membandingkan diri lebih tinggi.
Akibatnya, dissatisfaction dengan jumlah teman online, mood terpengaruh komentar dan like, dan kontrol waktu layar rendah sering terjadi.
Fenomena ini memperparah perasaan sendiri dan kesepian—parahnya, satu pertiga responden merasa sulit menyampaikan perasaannya kepada orang lain.
Stanford Psychology juga mengungkap bahwa Gen Z sulit membentuk koneksi sosial nyata—mereka sering meremehkan keinginan teman untuk dekat.
Padahal social connection penting untuk kebahagiaan—tetapi interaksi digital menyulitkan kedekatan nyata.
Studi lainnya menyatakan 42% Gen Z mengalami depresi atau rasa putus asa—dua kali lipat lebih tinggi dibanding usia di atas 25 tahun.
Survei ini mengungkap bahwa gangguan mental berupa depresi dan kecemasan kini jadi bagian besar kehidupan Gen Z.
Walau diagnosis banyak, kabarnya mental wellness Gen Z sebenarnya meningkat: 54% melaporkan hari‑hari kebahagiaan, naik 21% dari 2022.
Mereka mulai aktif pakai terapi, self-help, journaling, dan video edukasi untuk bawakan emotional support.
Gen Z juga mulai memprioritaskan sleep hygiene: tren “sleepmaxxing” menjadi kebiasaan agar tetap jamak fisik dan mental.
Selain itu, banyak yang membentuk komunitas offline seperti klub buku dan lari demi membangun real-life social support.
Pendidikan literasi digital juga dimainkan untuk tingkatkan digital emotional resilience, atau ketahanan mental dalam menghadapi dampak digital.
Secara keseluruhan, tekanan finansial, ketidakpastian pekerjaan, dan ekspektasi sosial makin menyulitkan Gen Z untuk merasa bahagia dan aman.
Baca Juga: Tahu Gak? Darahmu Bisa Ungkap Seberapa Banyak Kamu Konsumsi Makanan Cepat Saji!
Tapi semangat mereka juga kuat: banyak yang percaya bisa sukses sambil tetap menjaga keseimbangan mental.
Fakta ini menunjukkan jelas: generasi muda tidak hanya menghadapi tantangan, mereka juga aktif mencari solusi agar tetap sehat mental.
(at)
Editor : Priska Watung