Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Terungkap! Bukan Otak, Sel Ini Penyebab Trauma Diri Sering Kambuh!

Priska Watung • Senin, 4 Agustus 2025 | 20:33 WIB

Photo
Photo
GORONTALOPOST - Trauma bisa datang kapan saja, dan sering kali tanpa kita sadari. Tapi ternyata, otak bukan satu-satunya penyebab trauma itu muncul lagi.

 

Sebuah studi baru mengungkap bahwa sel mikroglia, yaitu sel khusus dalam sistem saraf, punya peran besar dalam munculnya kembali trauma masa lalu.

 

Mikroglia adalah sel yang bertugas menjaga otak tetap sehat. Tapi kalau terlalu aktif, mereka bisa memperparah ingatan traumatis.

 

Menurut penelitian dari Stanford University, mikroglia yang terlalu sensitif bisa membuat otak lebih mudah “mengingat” peristiwa menyakitkan.

 

Hal ini bisa menjelaskan kenapa seseorang bisa merasakan kembali rasa takut atau cemas yang sama meski kejadian itu sudah lama berlalu.

 

Biasanya, orang berpikir trauma itu cuma masalah emosi. Tapi ternyata, tubuh kita juga ikut "merekam" kejadian traumatis.

 

Sel mikroglia ini bekerja seperti alarm otomatis yang aktif setiap kali tubuh merasakan stres.

 

Ketika alarm itu aktif, otak langsung "mengira" ada bahaya, dan muncullah reaksi trauma seperti panik, sedih, atau marah berlebihan.

 

Peneliti menyebut ini sebagai neuroinflammatory loop atau lingkaran peradangan saraf, yang bisa terus berulang tanpa disadari.

 

Hal ini menjelaskan kenapa trauma psikologis sering kambuh, bahkan setelah seseorang merasa sudah sembuh.

 

Dilansir dari artikel di Nature Neuroscience, peneliti juga menemukan bahwa perempuan lebih rentan terhadap aktivasi mikroglia ini.

 

Perbedaan hormon dan struktur saraf antara laki-laki dan perempuan diyakini jadi penyebabnya.

Tapi tenang, kabar baiknya, studi ini membuka peluang untuk terapi baru yang menargetkan mikroglia agar tidak terlalu aktif.

 

Beberapa percobaan pada tikus sudah menunjukkan hasil positif dengan cara "menenangkan" mikroglia lewat obat tertentu.

 

Artinya, di masa depan, trauma mungkin bisa diatasi bukan hanya lewat terapi bicara, tapi juga lewat pengobatan biologis.

 

Para ilmuwan berharap pendekatan ini bisa membantu mereka yang mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder) lebih efektif.

 

Trauma bukan sekadar masalah pikiran, tapi juga kerja sama rumit antara sel dan sinyal tubuh.

 

Anak muda yang merasa sering cemas atau terpicu tanpa sebab, bisa jadi sedang mengalami reaksi dari mikroglia yang terlalu aktif.

 

Kita perlu makin sadar bahwa kesehatan mental juga butuh dukungan dari riset ilmiah yang mendalam.

 

Dengan pemahaman seperti ini, kita bisa lebih memahami diri sendiri dan orang lain yang mengalami trauma.

 

Dan tentu, membuka harapan baru bagi banyak orang untuk bisa benar-benar pulih.

 

(hand)

Editor : Priska Watung
#psikologi remaja #psikologi #psikologi humanistik #gangguan psikologis #Secara Psikologis #Tekanan Psikologis