Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Bukan Mitos! Cuma Ubah Pola Pikir Jadi Optimis, Umurmu Bisa Bertambah 10 Tahun!

Priska Watung • Senin, 4 Agustus 2025 | 21:01 WIB
Photo
Photo

GORONTALOPOST - Merasa hidupmu berat, stres tiap hari, dan cepat lelah? Mungkin bukan karena kerjaan atau cuaca, tapi karena kamu belum berpikir dengan cara yang benar: optimis!

Optimisme adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari sebuah situasi, bahkan ketika keadaannya sedang tidak ideal. Ini bukan soal menyangkal kenyataan, tapi soal memilih cara pandang yang membangun.

Menurut studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, orang yang punya tingkat optimisme tinggi cenderung hidup 11 hingga 15 persen lebih lama daripada mereka yang pesimis.

Fakta ini juga diperkuat oleh penelitian dari Boston University yang menemukan bahwa orang optimis 50-70 persen lebih mungkin hidup hingga usia 85 tahun ke atas.

Optimisme bukan bawaan lahir, tapi bisa dipelajari. Artinya, siapa saja bisa melatih pola pikir ini agar tubuh dan pikirannya jadi lebih sehat.

Salah satu langkah sederhana adalah dengan menulis jurnal rasa syukur setiap hari. Cukup tuliskan 3 hal kecil yang kamu syukuri, dan ulangi tiap malam.

Langkah lainnya yaitu mengurangi paparan konten negatif di media sosial. Semakin kamu membaca hal-hal yang bikin takut atau marah, makin mudah otakmu berpikir negatif.

Optimisme bukan hanya memperpanjang umur, tapi juga memperbaiki gaya hidup secara keseluruhan. Orang yang optimis cenderung lebih aktif, punya tidur yang berkualitas, dan menjaga pola makan.

Dilansir dari Real Simple, optimis juga membantu seseorang untuk menghadapi stres lebih sehat, karena mereka fokus mencari solusi, bukan tenggelam dalam masalah.

Baca Juga: Ternyata Susah Tidur Bikin Kamu Mudah Percaya Konspirasi — Bisa Jadi Kamu Salah Satunya!

Dalam dunia psikologi, hal ini masuk ke dalam konsep resilience atau daya lenting psikologis—kemampuan bangkit dari keterpurukan.

Mereka yang memiliki resilience tinggi, biasanya juga punya kemampuan regulasi emosi yang baik. Artinya, mereka lebih jarang meledak atau berlarut dalam kesedihan.

Menurut psikolog klinis Susan David, "Optimisme yang sehat bukan berarti pura-pura bahagia. Tapi mengakui emosi yang dirasakan dan tetap memilih untuk bangkit."

Untuk anak muda, cara paling simpel untuk memulai berpikir optimis adalah dengan mengubah kalimat internal. Ubah “Aku gak bisa” jadi “Aku belum bisa—tapi bisa belajar.”

Latihan pernapasan, meditasi ringan, atau bahkan olahraga 10 menit per hari juga bisa bantu membentuk mindset positif secara alami.

Orang yang optimis ternyata juga lebih mudah bersosialisasi. Mereka lebih disukai, karena memberikan energi positif ke sekitarnya.

Kebiasaan sederhana seperti menyapa orang lain dengan senyum, memberi pujian tulus, atau tidak cepat mengeluh bisa melatih rasa optimis tiap hari.

Kamu juga bisa menyusun vision board atau papan impian berisi hal-hal yang ingin kamu capai. Ini bisa jadi motivasi visual untuk berpikir ke depan.

Optimisme bukan berarti hidupmu langsung sempurna. Tapi ini adalah fondasi untuk membangun hari-hari yang lebih sehat dan bahagia.

Coba deh mulai dari hari ini—catat satu hal baik yang terjadi setiap malam sebelum tidur. Lalu lihat bedanya dalam 30 hari ke depan.

Karena dengan cara berpikir yang tepat, kamu bukan cuma bikin mood lebih stabil, tapi bisa beneran hidup lebih lama dan lebih berkualitas.

(rm)

Editor : Priska Watung
#MotivasiDiri #MentalHealth #HidupSehat #PsikologiHidupBahagia #optimisme