Kata-kata memang tidak meninggalkan bekas fisik seperti pukulan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan, ucapan menyakitkan di masa kecil bisa menghancurkan kesehatan mental saat dewasa.
Menurut laporan The Guardian, studi yang diterbitkan di jurnal BMJ Open menemukan fakta mengejutkan.
Anak yang mengalami kekerasan verbal berisiko 64% lebih tinggi mengalami gangguan mental di masa dewasa.
Kekerasan verbal di sini mencakup hinaan, ancaman, teriakan, atau merendahkan harga diri anak.
Dampaknya bisa berlangsung lama bahkan hingga puluhan tahun setelah kejadian.
Dilansir dari The Guardian, risiko ini bahkan lebih besar dibanding kekerasan fisik, yang “hanya” meningkatkan risiko sebesar 52%.
Artinya, luka di hati bisa jauh lebih parah dibanding luka di tubuh.
Psikolog menyebut kekerasan verbal sebagai bentuk abuse yang sering diremehkan.
Karena tidak terlihat secara kasat mata, banyak orang tua atau lingkungan menganggapnya biasa.
Padahal, ucapan yang menyakitkan bisa merusak rasa percaya diri anak sejak dini.
Rasa “tidak cukup baik” itu terbawa hingga dewasa.
Penelitian juga menemukan bahwa efek kekerasan verbal lebih parah pada mereka yang lahir setelah tahun 2000.
Salah satu penyebabnya adalah lingkungan digital yang membuat kata-kata menyakitkan lebih mudah tersebar.
Media sosial memperbesar dampak ucapan negatif.
Anak yang menjadi korban bisa mengalaminya berkali-kali karena jejak digital sulit dihapus.
Banyak orang dewasa mengaku baru menyadari luka masa kecil mereka setelah mengalami stres atau depresi.
Mereka sering bertanya-tanya kenapa selalu merasa rendah diri atau takut gagal.
Psikolog menjelaskan, otak anak masih dalam masa perkembangan.
Kata-kata yang terus-menerus didengar akan membentuk pola pikir dan cara pandang mereka terhadap diri sendiri.
Jika yang sering terdengar adalah kata-kata negatif, otak akan menyimpan “rekaman” tersebut.
Saat dewasa, “rekaman” ini bisa muncul kembali saat menghadapi tantangan.
Kabar baiknya, luka ini bisa dipulihkan dengan dukungan yang tepat.
Terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy) menjadi salah satu cara yang efektif.
Selain itu, membangun lingkungan positif sangat membantu.
Dukungan teman, pasangan, atau komunitas bisa memberi rasa aman untuk mulai sembuh.
Para ahli juga menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua.
Mengajarkan komunikasi yang menghargai anak dapat mencegah kekerasan verbal sejak awal.
Baca Juga: Jangan Dicampur! Makanan dan Minuman yang Berbahaya Jika Bersama Obat
Sekolah dan lembaga pendidikan juga berperan besar.
Program literasi emosional dapat membentuk generasi yang lebih bijak dalam berbicara.
Meski terlihat sepele, kata-kata bisa menjadi senjata yang mematikan.
Sebaliknya, kata-kata juga bisa menjadi obat yang menyembuhkan.
Pesan pentingnya: berhati-hatilah dengan ucapan, terutama kepada anak-anak.
Bekasnya bisa terasa hingga mereka dewasa nanti. (rm)