Tapi, ada satu “senjata” ampuh yang ternyata bisa membantu mengurangi beban itu, yaitu self-compassion.
Self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap baik pada diri sendiri, bahkan ketika kita sedang gagal atau melakukan kesalahan. Singkatnya, memperlakukan diri seperti kita memperlakukan sahabat yang lagi sedih.
Menurut penelitian dari Universitas Gadjah Mada (2025), self-compassion terbukti bisa mengurangi pikiran bunuh diri pada remaja dewasa. Efeknya bekerja dengan menekan rasa kesepian dan perasaan bahwa diri menjadi beban orang lain.
Dilansir dari jurnal Mindfulness (Springer Nature), self-compassion bekerja dengan membantu remaja menerima diri apa adanya, tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Pikiran gelap seperti merasa tidak berguna, minder, atau ingin menghilang, sering kali datang ketika kebutuhan sosial remaja tidak terpenuhi. Misalnya, merasa tidak punya teman dekat atau tidak dihargai di lingkungannya.
Di sinilah peran self-compassion menjadi penting. Dengan menerima bahwa rasa sedih itu wajar, remaja bisa bangkit lagi tanpa terjebak dalam pikiran negatif yang berulang.
Cara melatih self-compassion sebenarnya sederhana. Salah satunya adalah dengan berbicara kepada diri sendiri dengan kalimat positif, misalnya “Aku sedang berusaha yang terbaik” atau “Wajar kalau aku merasa lelah”.
Selain itu, remaja bisa melatih kesadaran diri atau mindfulness, yaitu menyadari apa yang sedang dirasakan tanpa menghakimi. Ini membantu pikiran lebih tenang dan fokus pada saat ini.
Menurut Kristin Neff, pakar self-compassion dari University of Texas, ada tiga elemen utama self-compassion: self-kindness (bersikap baik pada diri sendiri), common humanity (menyadari bahwa semua orang pernah mengalami kesulitan), dan mindfulness (menyadari emosi tanpa melebih-lebihkan atau menekan).
Studi di Indonesia juga menemukan bahwa remaja dengan tingkat self-compassion tinggi lebih tahan menghadapi stres dari media sosial. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh perbandingan sosial yang berlebihan.
Media sosial sering memicu perasaan minder karena melihat pencapaian orang lain. Dengan self-compassion, remaja bisa melihatnya secara lebih realistis, tanpa merasa kalah.
Self-compassion bukan berarti membiarkan diri malas atau pasrah. Justru, ini menjadi dorongan untuk memperbaiki diri dengan cara yang sehat.
Jika dilatih secara rutin, self-compassion bisa meningkatkan rasa percaya diri, kesehatan mental, dan bahkan kualitas hubungan dengan orang lain.
Orang tua, guru, dan teman sebaya juga punya peran penting. Mereka bisa memberikan dukungan positif dan membantu remaja belajar mencintai diri sendiri.
Beberapa sekolah di luar negeri sudah mulai memasukkan latihan self-compassion ke dalam program pendidikan karakter.
Indonesia sendiri mulai melirik pendekatan ini untuk mencegah masalah kesehatan mental pada remaja, terutama di era tekanan digital seperti sekarang.
Dengan memahami dan melatih self-compassion, remaja punya “perisai” kuat untuk menghadapi tantangan hidup.
Jadi, daripada terjebak dalam pikiran gelap, yuk mulai belajar untuk lebih berbelas kasih pada diri sendiri.
Karena di akhir hari, teman terbaik kita adalah diri kita sendiri. (hand)
Editor : Priska Watung