Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Slow Living Itu Apa? Yuk Lihat Tren Hidup Santai di Tengah Dunia yang Serba Cepat

Priska Watung • Senin, 18 Agustus 2025 | 14:30 WIB
Photo
Photo

GORONTALO POST - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, muncul tren baru yang dikenal dengan nama Slow Living.

Konsep ini mengajak orang untuk hidup lebih santai, tanpa terburu-buru.

Slow Living bukan berarti malas atau tidak produktif, tetapi lebih pada menikmati setiap momen dalam kehidupan.

Orang diajak untuk berhenti sejenak, lalu fokus pada hal-hal penting.

Menurut Psychology Today, Slow Living menjadi jawaban atas stres yang ditimbulkan gaya hidup serba cepat.

Banyak orang merasa kelelahan karena terlalu sibuk mengejar target.

Tren ini semakin populer di kalangan anak muda, terutama generasi milenial dan Gen Z.

Mereka mulai sadar bahwa hidup bukan hanya soal karier, tapi juga soal kesehatan mental dan kebahagiaan.

Slow Living mengajarkan seseorang untuk lebih peduli pada diri sendiri.

Mulai dari pola tidur yang teratur, pola makan yang sehat, hingga mengurangi ketergantungan pada gawai.

Dilansir dari BBC Lifestyle, Slow Living juga erat kaitannya dengan konsep mindfulness, yaitu kesadaran penuh dalam menikmati momen saat ini.

Misalnya, ketika makan, seseorang benar-benar menikmati rasa makanan.

Bukan sambil menonton TV atau scroll media sosial.

Selain itu, Slow Living juga mengajak orang untuk menjaga hubungan sosial.

Menghabiskan waktu dengan keluarga, teman, atau orang terdekat menjadi bagian penting dari gaya hidup ini.

Baca Juga: Frugal Living, Seni Menghemat Tanpa Menyiksa Diri

Banyak komunitas di dunia yang kini mengkampanyekan gerakan Slow Living.

Mereka mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi berlebihan dan lebih menghargai waktu.

Di Indonesia sendiri, konsep ini mulai populer di kota-kota besar.

Misalnya, muncul kafe dengan suasana tenang, tempat healing, hingga ruang terbuka hijau yang mendukung gaya hidup santai.

Salah satu contoh penerapan Slow Living adalah tren berkebun di rumah.

Aktivitas sederhana ini membuat orang lebih dekat dengan alam dan merasa lebih rileks.

Tak hanya itu, kebiasaan membaca buku fisik kembali diminati.

Banyak yang merasa membaca secara perlahan membuat pikiran lebih tenang dibanding membaca cepat di layar ponsel.

Slow Living juga terkait dengan konsep minimalism.

Artinya, hidup dengan barang yang secukupnya, bukan menumpuk hal-hal yang tidak penting.

Menurut The Guardian, gaya hidup minimalis membantu seseorang lebih fokus pada kualitas hidup, bukan pada banyaknya barang yang dimiliki.

Meski terlihat sederhana, Slow Living butuh kesadaran penuh.

Tantangannya adalah melawan kebiasaan lama yang selalu ingin cepat dan instan.

Namun, semakin banyak orang yang merasa hidup mereka lebih bahagia setelah menerapkan Slow Living.

Mereka lebih tenang, lebih fokus, dan lebih menghargai waktu.

Selain kesehatan mental, Slow Living juga berdampak positif pada fisik.

Tidur cukup, makan sehat, dan olahraga ringan membuat tubuh lebih bugar.

Para ahli psikologi menyarankan untuk memulai Slow Living dengan langkah kecil.

Misalnya, mematikan notifikasi ponsel beberapa jam sehari atau meluangkan waktu untuk berjalan santai.

Dengan begitu, orang tidak merasa terbebani.

Perlahan, gaya hidup ini akan menjadi kebiasaan yang memberi banyak manfaat.

Slow Living bukan sekadar tren sesaat, tetapi bisa menjadi jalan menuju hidup yang lebih seimbang.

Di dunia yang serba cepat, gaya hidup ini hadir sebagai pengingat untuk berhenti sejenak dan benar-benar hidup.

(ed)

Editor : Priska Watung
#Wellbeing #SlowLiving #Lifestyle #Minimalism #Mindfulness