Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Digandrungi Anak Muda, Video Pendek Ternyata Jadi Lahan Subur Hoaks dan Disinformasi

Nur Fadilah • Senin, 25 Agustus 2025 | 10:56 WIB

 

ILUSTRASI: Brainout. (Freepik)
ILUSTRASI: Brainout. (Freepik)

GORONTALOPOST
-Di era digital saat ini, konten video pendek semakin digemari, terutama oleh kalangan anak muda. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi ruang hiburan sekaligus sumber informasi instan.

Dengan durasi singkat dan visual yang menarik, video pendek mampu menyebar dengan cepat, bahkan sering kali lebih mudah viral dibanding konten panjang.

Namun, di balik popularitasnya, video pendek justru menyimpan kerentanan serius: maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi.

Daya Sebar Cepat, Minim Verifikasi

Salah satu alasan mengapa video pendek rentan berisi hoaks adalah sifatnya yang ringkas dan mudah dicerna. Kreator konten bisa mengemas informasi dalam hitungan detik tanpa memberikan penjelasan detail atau sumber yang valid. Akibatnya, penonton kerap menerima informasi mentah tanpa sempat melakukan verifikasi.

Lebih berbahaya lagi, algoritma media sosial mendorong konten viral untuk terus muncul di beranda pengguna. Artinya, semakin banyak orang yang menonton dan membagikan, semakin cepat pula hoaks menyebar.

Disinformasi yang Terselubung

Tidak hanya hoaks, disinformasi atau penyebaran informasi yang sengaja dimanipulasi juga banyak ditemukan dalam format video pendek. Misalnya, potongan video pidato tokoh publik yang dipenggal sehingga keluar dari konteks, atau penggunaan suara dan teks tambahan yang memelintir fakta. Dengan teknik editing sederhana, pesan asli bisa berubah total dan menimbulkan kesalahpahaman besar.

Anak Muda Jadi Target Utama

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena mayoritas konsumen video pendek adalah anak muda. Generasi ini cenderung lebih sering mengakses media sosial dibandingkan berita konvensional, sehingga lebih mudah terpapar konten menyesatkan. Tanpa kemampuan literasi digital yang kuat, mereka bisa dengan cepat mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.

Pentingnya Literasi Digital

Menghadapi derasnya arus informasi, literasi digital menjadi benteng utama. Anak muda perlu diajarkan cara membedakan informasi valid dan palsu, memeriksa sumber berita, hingga memahami motif di balik konten tertentu. Pemerintah, lembaga pendidikan, hingga platform media sosial juga memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat dan menyaring konten menyesatkan.

Bijak Menyikapi Konten

Popularitas video pendek memang tidak bisa dibendung, bahkan akan terus berkembang di masa depan. Namun, sebagai pengguna aktif, kita perlu lebih bijak.

Jangan mudah percaya hanya karena kontennya menarik, apalagi jika menyangkut isu sensitif seperti politik, kesehatan, atau agama. Membiasakan diri untuk memeriksa ulang informasi sebelum membagikannya adalah langkah kecil yang bisa mencegah hoaks semakin meluas.(jpg)

 

Editor : Nur Fadilah
#Youtube #Tiktok