GORONTALOPOST - Banyak orang tua zaman dulu sering melarang anak gadis mereka menjahit saat waktu magrib tiba.
Mereka percaya, menjahit di jam itu bisa membuat roh halus ikut "menenun" bersama, lalu meninggalkan energi buruk pada pakaian.
Mitos ini berkembang di berbagai daerah di Jawa, Sumatra, hingga Sulawesi dengan variasi cerita yang berbeda-beda.
Menurut kepercayaan masyarakat, magrib adalah waktu peralihan antara siang dan malam.
Saat itu dipercaya sebagai momen di mana makhluk gaib keluar mencari tempat tinggal baru.
Jika seseorang menjahit saat magrib, benang dan jarum dianggap bisa menjadi "jalan masuk" roh halus.
Baca Juga: Mitos Pelit Minyak di Lampu: Katanya Bisa Mengundang Roh Jahat di Rumah
Cerita turun-temurun menyebutkan, ada gadis yang sering menjahit pada magrib lalu mengalami mimpi buruk berhari-hari.
Bahkan, beberapa orang percaya benang yang dipakai bisa "hidup" sendiri di malam hari jika ada roh yang ikut menempel.
Selain itu, mitos lain menyebutkan menjahit di waktu itu bisa membuat jari mudah terluka karena gangguan makhluk tak kasat mata.
Konon, luka kecil yang terkena jarum bisa menjadi pintu masuk energi jahat yang membuat badan lemah dan sakit.
Dari sisi logika, larangan ini bisa dimaklumi karena cahaya di waktu magrib cenderung redup.
Menjahit dengan penerangan kurang jelas bisa membuat mata cepat lelah dan tangan mudah salah menusuk.
Orang tua mungkin membuat mitos ini agar anak-anak lebih berhati-hati dan tidak memaksakan diri menjahit di waktu yang berbahaya bagi kesehatan mata.
Selain itu, waktu magrib juga identik dengan jam beribadah, sehingga menjahit saat itu dianggap melalaikan kewajiban.
Meski begitu, kisah mistis tentang benang hidup dan jarum yang jadi sarang roh tetap diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga kini, masih ada orang yang enggan menjahit saat magrib karena takut sial atau diganggu makhluk gaib.
Mitos menjahit saat magrib memperlihatkan bagaimana aktivitas sederhana pun bisa sarat makna mistis.
Antara nasihat kesehatan, disiplin beribadah, dan cerita horor, mitos ini masih menjadi bagian menarik dari tradisi masyarakat.
(rm)
Editor : Priska Watung