GORONTALOPOST - Pemilik ponsel Google Pixel generasi lama tampaknya sedang mengalami mimpi buruk. Beberapa perangkat Pixel 6, 7, dan 8 dilaporkan mengalami kerusakan parah — alias bricked — dan kabar buruknya, Google diduga tidak memberi solusi resmi.
Kabar ini pertama kali muncul dari seorang teknisi di Reddit dengan nama pengguna Special-Lecture7984. Ia mengklaim bahwa puluhan perangkat Pixel mengalami brick saat dibawa ke toko reparasinya di Rusia, dan jumlahnya mencapai lebih dari 100 unit jika dihitung dengan partner toko lain.
Apa Penyebabnya?
Menurut laporan, kerusakan ini muncul karena beberapa hal berikut:
-
Mengganti slot sistem (A/B slot switching)
-
Menginstal custom ROM Android
-
Menurunkan versi sistem operasi (downgrade)
-
Menginstal pembaruan resmi Google bulan Juni 2025
Poin terakhir inilah yang bikin geger, karena ini berarti update resmi dari Google sendiri bisa membuat perangkat jadi tak bisa digunakan sama sekali. Mirip kayak update... tapi justru bikin HP-nya jadi pot bunga.
Apa Maksudnya “Bricked”?
Dalam dunia gadget, "bricked" berarti perangkat tidak bisa menyala, tidak bisa masuk sistem, dan bahkan tidak bisa di-recovery dengan cara biasa. Artinya: HP-nya sudah kayak batu bata — tidak berguna.
Kenapa Tidak Bisa Diperbaiki?
Biasanya, teknisi bisa memulihkan ponsel bricked dengan menginstal recovery bootloader image, namun Google disebut-sebut menolak memberikan image tersebut dengan alasan keamanan.
Sayangnya, penjelasan ini dianggap kurang masuk akal oleh banyak pengguna, karena recovery bootloader biasanya identik dengan versi original — hanya berbeda pada tanda tangan digitalnya.
"Tidak ada permukaan serangan baru yang terbuka karena recovery bootloader itu," ujar sang Redditor.
Google Gak Kasih Jawaban?
Sampai saat ini, Google belum memberikan komentar resmi. Beberapa media teknologi sudah menghubungi mereka untuk konfirmasi, namun belum ada respons yang memuaskan. Pengguna berharap raksasa teknologi ini memberi solusi konkret, terutama bagi mereka yang mengalami brick setelah update resmi.
Masalah ini juga menyentuh isu yang lebih luas: apakah pengguna benar-benar memiliki kendali atas perangkat mereka sendiri? Para pengoprek Android dan komunitas teknisi berharap Google tidak terus memperketat akses hanya karena alasan "keamanan", apalagi kalau justru mengorbankan kenyamanan pengguna.
(HL)
Editor : Priska Watung