Menurut penelitian terbaru, bayi sejak lahir sudah memiliki kemampuan mengenali pola, suara, bahkan wajah orang tuanya. Artinya, otak bayi sudah aktif sejak awal kehidupan.
Dalam dunia psikologi jadul, teori “tabula rasa” atau bayi seperti kertas kosong memang populer. Teori ini awalnya dikenalkan oleh filsuf John Locke pada abad ke-17.
Namun, sains modern membuktikan sebaliknya. Bayi bukan hanya belajar dari nol, tapi membawa bawaan alami untuk bisa berkembang lebih cepat.
Menurut Time Magazine, bayi bisa membedakan suara bahasa ibu dengan bahasa asing hanya dalam hitungan hari setelah lahir. Ini bukti bahwa otak bayi sangat pintar menyerap informasi.
Selain soal bayi, psikologi juga membongkar rahasia memori. Banyak orang percaya memori adalah penyimpan murni seperti “hard disk”. Faktanya, memori manusia tidak selalu akurat.
Penelitian menunjukkan memori itu bisa berubah. Kadang kita ingat sesuatu, tapi ternyata berbeda dari kenyataan. Fenomena ini dikenal sebagai “false memory”.
Dalam kehidupan sehari-hari, false memory bisa membuat kita yakin pernah mengalami sesuatu padahal tidak. Misalnya, merasa pernah meletakkan kunci di meja, padahal sebenarnya di tas.
Menurut American Psychological Association, memori manusia lebih mirip “rekonstruksi” ketimbang arsip tetap. Otak kita membangun kembali kenangan dengan potongan-potongan informasi.
Menariknya, kelemahan memori ini juga punya sisi baik. Kadang, memori yang bias justru membantu kita melupakan hal yang terlalu menyakitkan.
Selain bayi dan memori, psikologi juga punya kabar mengejutkan soal kebahagiaan. Banyak orang mengira makin tua, makin sedih hidupnya.
Fakta ilmiah justru sebaliknya. Dilansir dari Time Magazine, riset psikologi positif menemukan orang bisa semakin bahagia di usia tua.
Hal ini terjadi karena orang tua biasanya lebih pandai bersyukur, menerima keadaan, dan fokus pada hal-hal penting dalam hidup.
Psikologi positif sendiri adalah cabang psikologi yang mempelajari cara meningkatkan kualitas hidup, bukan hanya mengobati masalah mental.
Menurut penelitian, tingkat kepuasan hidup cenderung membentuk pola “U”, yaitu menurun di usia paruh baya, lalu naik kembali ketika memasuki usia senja.
Artinya, harapan untuk bahagia di masa tua itu nyata. Banyak lansia justru lebih tenang dan damai dibandingkan orang muda.
Temuan ini membantah anggapan bahwa umur tua selalu identik dengan penderitaan. Psikologi justru menegaskan ada cahaya di masa senja.
Bayi pintar, memori yang bisa menipu, dan kebahagiaan di usia tua hanyalah sebagian dari “kejutan” psikologi. Ilmu ini terus berkembang dan membuka cara pandang baru tentang manusia.
Kesimpulannya, psikologi jadul memang menarik, tapi sains modern membuat kita lebih paham siapa diri kita sebenarnya.
Makin dalam mempelajari psikologi, makin jelas bahwa manusia penuh misteri yang terus menunggu untuk diungkap. (hand)
Editor : Priska Watung