Pelukan mungkin terdengar sederhana. Namun, penelitian terbaru membuktikan bahwa sentuhan hangat ini bisa memberikan manfaat luar biasa bagi tubuh dan pikiran manusia.
Menurut American Psychological Association (APA), pelukan mampu menurunkan stres, meningkatkan hormon bahagia, hingga memperkuat sistem imun. Efek ini membuat para ahli menilai pelukan bisa jadi “obat alami” yang murah dan tanpa efek samping.
Banyak orang menganggap pelukan hanya simbol kasih sayang. Faktanya, pelukan adalah bentuk komunikasi nonverbal yang bisa mengirimkan sinyal rasa aman dan nyaman kepada otak.
Saat seseorang dipeluk, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin. Hormon ini sering disebut sebagai “hormon cinta” yang membuat orang merasa lebih tenang, hangat, dan terhubung dengan orang lain.
Oksitosin juga dapat menurunkan hormon stres seperti kortisol. Itulah sebabnya, pelukan bisa menenangkan pikiran yang sedang gelisah atau penuh tekanan.
Dilansir dari American Psychological Association, penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mendapat pelukan cenderung lebih jarang jatuh sakit karena memiliki sistem imun lebih kuat.
Hal ini terjadi karena pelukan membantu menstabilkan tekanan darah dan detak jantung. Kedua hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh jangka panjang.
Tak hanya itu, pelukan juga bisa memperbaiki suasana hati dengan cepat. Itulah mengapa ketika seseorang sedih, pelukan dari orang terdekat bisa membuat mereka merasa lebih baik.
Dalam dunia psikologi, pelukan dianggap sebagai bentuk social support atau dukungan sosial. Dukungan ini penting karena mampu membuat seseorang merasa dihargai dan dicintai.
Bagi anak-anak, pelukan memiliki peran yang lebih besar lagi. Anak yang sering dipeluk orang tua terbukti memiliki rasa percaya diri lebih tinggi dan emosi yang lebih stabil.
Bahkan menurut Carnegie Mellon University, pelukan bisa menurunkan risiko seseorang mengalami depresi, terutama pada mereka yang sering merasa kesepian.
Di sisi lain, kurangnya pelukan atau sentuhan fisik bisa meningkatkan rasa cemas. Hal ini dikenal dengan istilah skin hunger atau lapar sentuhan.
Fenomena ini semakin banyak terjadi pada era modern, terutama setelah pandemi COVID-19 ketika orang-orang dibatasi untuk bersentuhan.
Pelukan juga mampu memperkuat ikatan dalam hubungan, baik itu keluarga, sahabat, maupun pasangan. Dengan pelukan, rasa percaya dan kedekatan emosional bisa semakin kuat.
Para ahli menyarankan, setiap orang sebaiknya mendapatkan setidaknya 4–8 pelukan setiap hari untuk menjaga kesehatan emosional dan fisik.
Namun, tentu saja pelukan harus dilakukan dengan penuh rasa hormat dan kesepakatan. Bagi sebagian orang, pelukan mungkin tidak nyaman, sehingga perlu memperhatikan batas pribadi.
Pelukan bukan hanya sekadar gerakan fisik, melainkan juga bahasa kasih sayang yang universal. Hampir semua budaya di dunia mengenal pelukan sebagai simbol kehangatan.
Manfaat pelukan ini membuat banyak psikolog mendorong masyarakat untuk lebih terbuka memberikan kasih sayang lewat sentuhan positif.
Baca Juga: Wi-Fi Bisa Baca Detak Jantung Kamu? Teknologi ‘Pulse-Fi’ Bikin Heboh!
Jadi, jangan remehkan kekuatan sebuah pelukan. Satu pelukan bisa mengubah suasana hati, menguatkan hubungan, hingga membuat tubuh lebih sehat.
Pelukan bisa menjadi “obat” sederhana yang selalu tersedia, tanpa harus membeli di apotek. Cukup buka tangan, berikan pelukan, dan rasakan manfaatnya.
(at)
Editor : Priska Watung