Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Jangan Salah Langkah, Ini Dampak Negatif Penggunaan Obat Pereda Nyeri Tanpa Pengawasan

Nur Fadilah • Rabu, 19 November 2025 | 13:24 WIB

 

Ilustrasi - Obat-obatan. ANTARA/Pixabay/am.
Ilustrasi - Obat-obatan. ANTARA/Pixabay/am.

GORONTALOPOST
-Obat pereda nyeri kerap menjadi solusi cepat saat kepala mulai berdenyut. Namun, penggunaan obat ini secara berlebihan lebih dari 10-15 hari dalam sebulan justru bisa memperburuk kondisi dan meningkatkan frekuensi sakit kepala.

Dari New Delhi, ahli saraf Dr. Rahul Chawla mengingatkan agar tidak meremehkan risiko penggunaan obat pereda nyeri yang tidak terkontrol.

Menurut Dr. Chawla, konsumsi obat pereda nyeri berlebihan membuat otak “terlena” dan bergantung pada obat agar tubuh terasa normal, padahal ini justru memicu sakit kepala yang lebih sering dan bahkan komplikasi serius seperti kerusakan hati dan ginjal. Kondisi di mana obat yang seharusnya menyembuhkan malah menjadi sumber sakit kepala disebut “sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan.”

Banyak pasien yang mengonsumsi obat pereda nyeri setiap hari tanpa pemeriksaan atau diagnosis yang tepat, sehingga penyebab utama sakit kepala tidak terungkap dan penanganannya terlambat.

Dr. Chawla menambahkan bahwa gangguan seperti migrain kronis, sakit kepala tipe tegang, dan berbagai kondisi neurologis langka seperti hipertensi intrakranial idiopatik (IIH) atau vaskulitis sistem saraf pusat sering tidak disadari oleh pasien.

Fenomena ini juga disebabkan oleh menurunnya ambang nyeri dan sistem trigeminovaskular yang menjadi hiperresponsif akibat penggunaan obat berlebihan. Ketika obat dihentikan sementara, sakit kepala malah kambuh dan memburuk. Sekitar 20-30 persen pasien sakit kepala kronis yang berkonsultasi di klinik neurologi mengalami kondisi ini.

Selain efek pada otak, penggunaan obat seperti parasetamol, NSAID, dan analgesik kombinasi dalam jangka panjang berdampak buruk pada organ vital. Efek samping yang perlu diwaspadai meliputi kerusakan hati dan ginjal, gastritis, tukak lambung, bahkan peningkatan tekanan darah dan perdarahan lambung. Misalnya, NSAID seperti diklofenak dapat menyebabkan disfungsi ginjal dan retensi cairan.

Dr. Chawla mengingatkan, solusi terbaik adalah menghentikan konsumsi obat pereda nyeri berlebihan dan segera berkonsultasi dengan ahli saraf. Pemeriksaan dan diagnosa yang tepat bisa membantu mengidentifikasi penyebab utama sakit kepala sehingga perawatan yang sesuai dapat diberikan.

“Jika Anda telah mengonsumsi obat pereda nyeri lebih dari 10-15 hari dalam sebulan, hentikan! Segera kunjungi ahli saraf, lakukan evaluasi, dan dapatkan pengobatan yang tepat untuk mengatasi akar masalah,” tegasnya.

Pendekatan ini tidak hanya mencegah komplikasi yang lebih serius, tapi juga membantu mengembalikan fungsi regulasi nyeri otak secara alami, sehingga pasien dapat mengalami kualitas hidup yang lebih baik tanpa ketergantungan obat.(antara)

 

 

Editor : Nur Fadilah
#Pasien #obat pereda nyeri #diagnosa