GORONTALO POST - Belakangan ini, banyak orang menjadikan aktivitas live streaming sebagai bagian dari gaya hidup.
Live di TikTok, Instagram, atau YouTube sudah seperti rutinitas harian bagi sebagian orang.
Namun, muncul kekhawatiran bahwa kebiasaan sering live bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Benarkah hal itu berbahaya? Atau hanya sekadar mitos yang dibesar-besarkan?
Live streaming membuat seseorang selalu merasa diperhatikan banyak orang.
Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan untuk tampil sempurna di depan kamera.
Ketika ditonton ratusan orang, seseorang bisa merasa harus selalu menghibur atau membuat konten menarik.
Tekanan ini bisa memicu stres, apalagi jika respon penonton tidak sesuai harapan.
Komentar negatif atau hate speech juga dapat mengganggu perasaan seseorang.
Baca Juga: Kebiasaan Konsumsi Kimchi Tidak Sehat? Mitos atau Fakta
Beberapa ahli menyebut terlalu sering mengejar perhatian online dapat menurunkan rasa percaya diri.
Sebagian orang bahkan bisa menjadi terlalu bergantung pada jumlah viewer atau likes.
Kebiasaan ini juga dapat menyebabkan kecanduan sosial media.
Seseorang bisa merasa gelisah jika tidak live sehari saja.
Namun, tidak semua dampaknya buruk jika dilakukan dengan cara yang sehat.
Live streaming juga bisa menjadi sarana kreatifitas dan hiburan.
Beberapa orang menjadikannya tempat berbagi bakat atau membangun komunitas positif.
Mitos yang beredar menyebut bahwa sering live pasti merusak kesehatan mental.
Faktanya, risikonya muncul jika live dilakukan tanpa batas dan tanpa kontrol.
Batasan waktu dan tujuan yang jelas sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
Jika live dilakukan berlebihan, risiko tekanan psikologis memang bisa meningkat.
Kesimpulannya, sering live di sosial media bisa berbahaya, tapi tidak selalu jika dilakukan dengan bijak.
Semua kembali pada kontrol diri, waktu yang digunakan, dan bagaimana seseorang memaknai interaksi digitalnya.
(ed)
Editor : Priska Watung