GORONTALOPOST - SEOUL, KOREA SELATAN – Samsung Electronics mengejutkan pasar dengan perkiraan laba operasional kuartal keempat 2025 yang melonjak lebih dari 200% dibanding periode yang sama tahun lalu, didorong oleh lonjakan permintaan chip memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan raksasa teknologi asal Korea Selatan itu memperkirakan **laba operasional mencapai sekitar ₩20 triliun, setara sekitar **Rp 221 triliun pada kuartal Oktober hingga Desember 2025 – jauh melampaui ekspektasi analis yang berada di kisaran ₩18 triliun. Sementara itu, penjualan diperkirakan mencapai ₩93 triliun atau sekitar **Rp 1.03 kuadriliun, naik sekitar 23% dari tahun sebelumnya.
Apa Penyebab Lonjakan Laba Ini?
Pendorong utama kenaikan laba Samsung adalah melonjaknya harga chip memori, khususnya jenis DRAM dan HBM (high-bandwidth memory), yang kini menjadi komponen krusial dalam server dan pusat data AI. Permintaan yang membengkak ini menciptakan kekurangan pasokan global, sehingga harga chip naik tajam.
Beberapa poin pentingnya:
-
Harga chip DRAM dan NAND flash diperkirakan naik antara 40–50% di Q4 lalu — dan diproyeksikan terus meningkat di awal 2026.
-
Permintaan dari perusahaan AI besar seperti OpenAI dan Nvidia menjadi salah satu motor utama kenaikan ini. Samsung bahkan mendekati kesepakatan pasokan chip HBM untuk Nvidia, setelah sebelumnya menjalin kesepakatan besar dengan OpenAI.
-
Namun, kekurangan pasokan ini bisa berdampak pada unit bisnis lain, termasuk smartphone, karena biaya komponen yang semakin tinggi. Samsung sendiri memperingatkan potensi kenaikan harga perangkat elektronik konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
Tantangan di Tengah Keberhasilan
Meskipun divisi chip menjadi mesin penghasil laba utama, tantangan tetap ada:
-
Permintaan smartphone diperkirakan melambat karena harga komponen yang meningkat.
-
Detail lengkap kinerja divisi bisnis Samsung akan dirilis bersamaan dengan laporan keuangan resmi yang dijadwalkan dibuka bulan Januari 2026.
Reaksi Pasar Saham
Berita ini membuat saham Samsung sempat mencapai rekor tertinggi di pasar Korea Selatan, sejalan dengan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan sektor chip memori global. Saham pesaing seperti SK Hynix juga ikut menguat, mengangkat indeks pasar secara keseluruhan.
(HL)
Editor : Priska Watung