GORONTALOPOST - Apple kembali menuai sorotan setelah menetapkan kebijakan baru yang akan berdampak langsung pada para kreator digital. Perusahaan teknologi asal Cupertino itu dikabarkan akan mulai mengambil potongan hingga 30% dari pendapatan kreator Patreon yang menggunakan aplikasi Patreon di iPhone dan iPad.
Berdasarkan laporan TechCrunch, Apple menetapkan 1 November 2026 sebagai tenggat akhir bagi seluruh kreator Patreon untuk beralih dari sistem penagihan lama (legacy billing) ke sistem pembelian dalam aplikasi (in-app purchase/App Store). Jika tidak mengikuti kebijakan tersebut, Patreon berisiko dikeluarkan dari App Store.
Patreon sendiri merupakan platform populer yang memungkinkan kreator—mulai dari YouTuber, podcaster, hingga ilustrator—menerima dukungan finansial langsung dari para penggemarnya. Bagi banyak kreator, Patreon menjadi sumber pendapatan penting di luar iklan dan kerja sama merek.
Apple menganggap pembayaran dukungan kepada kreator sebagai produk digital, sehingga masuk dalam kategori transaksi yang wajib dikenai komisi App Store. Dalam skema ini:
-
Apple mengambil komisi 30% untuk pembelian dan langganan
-
Komisi turun menjadi 15% jika pelanggan telah berlangganan lebih dari satu tahun
Kebijakan ini memberi dilema bagi kreator. Patreon menawarkan dua opsi:
-
Menaikkan harga khusus di aplikasi iOS, atau
-
Menanggung sendiri potongan Apple, agar harga tetap konsisten di semua platform
Namun, pengguna iPhone dan iPad sebenarnya masih memiliki celah untuk menghindari komisi Apple. Mereka dapat mendukung kreator dengan melakukan pembayaran langsung melalui situs web Patreon, bukan lewat aplikasi iOS.
Patreon secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap cara Apple menerapkan kebijakan ini, yang dinilai memberatkan ekosistem kreator. Meski begitu, mayoritas kreator tampaknya sudah bersiap menghadapi perubahan tersebut.
Menurut TechCrunch, saat ini hanya sekitar 4% kreator Patreon yang masih menggunakan sistem penagihan lama. Sisanya telah lebih dulu beralih ke sistem App Store, baik secara sukarela maupun karena tuntutan kebijakan.
Langkah Apple ini kembali memicu perdebatan lama soal dominasi App Store dan besarnya komisi yang dikenakan, khususnya terhadap platform kreator yang mengandalkan hubungan langsung antara penggemar dan pembuat konten.
(HL)
Editor : Priska Watung