GORONTALOPOST -Kemiskinan kerap disalahpahami sebagai akibat dari kemalasan atau ketidakmampuan mengelola keuangan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang sulit justru dapat membentuk cara berpikir seseorang secara signifikan bahkan tanpa disadari.
Dalam kajian di bidang psikologi dan ekonomi perilaku, para ahli menemukan bahwa tekanan finansial dapat menguras kapasitas mental. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan tagihan, otak akan terfokus pada masalah jangka pendek, sehingga sulit merencanakan masa depan.
Fenomena ini dikenal sebagai “scarcity mindset” atau pola pikir kelangkaan. Dalam kondisi ini, individu cenderung mengambil keputusan yang tampak kurang rasional, seperti berutang dengan bunga tinggi atau mengabaikan kebutuhan jangka panjang.
Namun, keputusan tersebut bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena tekanan situasi yang mendesak.
Penelitian terkenal yang dipopulerkan oleh Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir dalam buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much menjelaskan bahwa kekurangan sumber daya baik uang, waktu, maupun energi dapat menurunkan fungsi kognitif seseorang. Bahkan, efeknya disebut-sebut setara dengan kehilangan sejumlah poin IQ dalam kondisi tertentu.
Dampak lain dari kemiskinan adalah meningkatnya stres kronis. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan. Orang yang hidup dalam tekanan ekonomi cenderung lebih impulsif, bukan karena keinginan, melainkan karena otak berada dalam mode “bertahan hidup”.
Para ahli menegaskan bahwa memahami dampak psikologis kemiskinan penting untuk merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran. Program bantuan sosial, misalnya, tidak cukup hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek edukasi dan pendampingan agar penerima manfaat mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.
Dengan perspektif ini, kemiskinan tidak lagi dipandang sebagai kegagalan individu semata, melainkan sebagai kondisi kompleks yang memengaruhi cara manusia berpikir dan bertindak. Memahami hal tersebut menjadi langkah awal untuk menciptakan solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.(jpg)
Editor : Nur Fadilah