Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tekanan Karier dan Media Sosial Picu Lonjakan Burnout di Kalangan Pekerja Muda

Nur Fadilah • Jumat, 8 Mei 2026 | 10:04 WIB
Ilustrasi Kelelahan kerja. ANTARA/Pixabay
Ilustrasi Kelelahan kerja. ANTARA/Pixabay

 
GORONTALOPOST
-Fenomena kelelahan kerja atau burnout kini semakin sering dialami pekerja muda, seiring meningkatnya tekanan karier dan pengaruh media sosial yang kian kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kinerja, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas hidup secara menyeluruh jika tidak ditangani dengan baik.

Psikolog klinis Phoebe Ramadina M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa pekerja muda berada pada fase penting dalam membangun karier, sehingga muncul dorongan besar untuk terus membuktikan diri.

Tekanan ini kerap diperparah oleh media sosial, yang menciptakan standar kesuksesan dan produktivitas yang tidak realistis. Akibatnya, banyak individu merasa tertinggal jika tidak terus bekerja dan berkarya tanpa henti.

Dalam konteks ini, muncul fenomena hustle culture, yakni pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus produktif demi mencapai kesuksesan. Meski terlihat positif, budaya ini bisa menjadi bumerang jika dijalani tanpa keseimbangan.

Tubuh dan pikiran yang terus dipaksa bekerja tanpa jeda berisiko mengalami kelelahan kronis atau burnout kondisi lelah secara emosional, mental, dan fisik akibat stres berkepanjangan.

Tanda-tanda burnout sering kali muncul secara perlahan, mulai dari mudah lelah, sulit fokus, hingga kehilangan motivasi dalam bekerja. Selain itu, individu juga bisa menjadi lebih sensitif, emosional, bahkan mengalami gangguan tidur dan keluhan fisik. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu keseharian dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan.

Untuk mencegah hal tersebut, penting bagi pekerja muda untuk mulai membangun batasan yang sehat antara pekerjaan dan waktu istirahat. Mengenali sumber kelelahan menjadi langkah awal yang krusial, apakah berasal dari beban kerja berlebihan, kurangnya waktu istirahat, tekanan relasi kerja, atau ketidakseimbangan hidup.

Mengatur ulang pola hidup juga menjadi kunci, termasuk memastikan waktu istirahat yang cukup, menetapkan batas kerja yang jelas, serta memberi ruang bagi pemulihan emosional. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental perlu dibangun secara konsisten, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

Phoebe juga mengingatkan bahwa aktivitas seperti healing atau liburan tidak selalu mampu menyelesaikan akar masalah, terutama jika sumber stres utama tetap ada, seperti lingkungan kerja yang tidak sehat atau minimnya batasan kerja.

Oleh karena itu, perubahan yang lebih mendasar perlu dilakukan agar kesehatan mental dapat terjaga secara berkelanjutan.

Jika kondisi kelelahan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional menjadi langkah yang disarankan. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu individu menemukan cara penanganan dan mekanisme coping yang lebih sehat.

Secara global, isu kesehatan mental di kalangan pekerja juga menjadi perhatian serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan lebih dari 25 persen kasus depresi dan kecemasan pada tahun pertama pandemi. Di Indonesia, sekitar 6 persen kaum muda dilaporkan mengalami depresi.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan jiwa, khususnya bagi pekerja. Upaya ini dinilai penting karena berkaitan erat dengan keselamatan kerja, produktivitas, hingga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain memasukkan skrining psikososial dalam program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), melatih manajer untuk mengenali tanda-tanda stres, serta memperluas jaminan sosial bagi pekerja, termasuk sektor informal. Selain itu, penerapan kebijakan ramah keluarga juga diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan seimbang.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan penting yang harus diprioritaskan setiap individu, terutama di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks di era modern.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#Karir #media sosial #Emosional