Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Emoji Tak Sekadar Hiasan, Bisa Tunjukkan Usia dan Kondisi Emosional

Nur Fadilah • Senin, 11 Mei 2026 | 09:35 WIB
Ilustrasi - Ragam emoji. ANTARA/HO-Pexels.
Ilustrasi - Ragam emoji. ANTARA/HO-Pexels.

 
GORONTALOPOST
-Di era percakapan digital yang serba cepat, cara seseorang mengetik pesan ternyata menyimpan lebih banyak makna daripada sekadar kata-kata.

Mulai dari emoji, tanda baca, hingga gaya penulisan, semuanya bisa menjadi “kode tersembunyi” yang mengungkap usia, emosi, bahkan cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain.

Mengutip laporan dari Psychology Today, pesan teks kini tak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi medium ekspresi emosional. Setiap simbol kecil seperti emoji atau tanda baca membawa “data emosional” yang mencerminkan perasaan dan pola pikir penggunanya.

Menariknya, tiap generasi memiliki “bahasa digital” yang berbeda.

Pada remaja, penggunaan emoji cenderung lebih kompleks dan penuh nuansa. Penelitian oleh Minich, Kerr, dan Moreno pada 2025 menunjukkan bahwa generasi muda kerap memakai emoji secara ironis, bahkan absurd. Emoji wajah tertawa sambil menangis, misalnya, tidak selalu berarti lucu bisa juga menyiratkan ejekan atau bahkan keputusasaan, tergantung konteks.

 Hal ini berkaitan erat dengan fase remaja yang sarat eksplorasi identitas, emosi yang intens, serta kecenderungan menyembunyikan perasaan lewat sarkasme.

Bahkan, tanda baca sederhana seperti titik di akhir kalimat bisa menimbulkan persepsi berbeda. Bagi remaja, titik sering diartikan sebagai tanda kemarahan atau frustrasi. Tak heran, pesan singkat dari orang tua yang diakhiri titik bisa memicu pertanyaan: “Lagi marah, ya?”

Beranjak ke kelompok usia 25 hingga 34 tahun, gaya komunikasi berubah menjadi lebih ekspresif dan hangat. Penelitian Emmanuel dan Isiaq pada 2025 menemukan bahwa kelompok ini paling sering menggunakan emoji, singkatan, dan tanda baca berulang seperti “!!!”. Tujuannya bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga keakraban di tengah ritme hidup yang padat. Bagi mereka, pesan teks adalah cara cepat untuk tetap terhubung secara emosional.

Sementara itu, kelompok usia 35 hingga 54 tahun cenderung lebih praktis. Mereka memilih gaya komunikasi yang langsung, jelas, dan minim emoji. Pesan digunakan untuk menyampaikan informasi secara efisien, bukan untuk memperkuat kedekatan emosional. Jika pun ada nuansa sindiran, biasanya disisipkan lewat susunan kalimat atau tanda baca seperti elipsis.

Berbeda lagi dengan kelompok usia lanjut. Studi oleh Pang dan rekan-rekannya pada 2025 menunjukkan bahwa mereka jarang menggunakan emoji, tetapi ketika digunakan, maknanya cenderung tulus. Emoji senyum benar-benar mencerminkan kebahagiaan atau kehangatan, tanpa lapisan sarkasme seperti yang sering ditemukan pada generasi muda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya mengetik pesan kini telah berkembang menjadi semacam “dialek digital” yang unik bagi setiap generasi. Perbedaan ini bukan sekadar gaya, melainkan cerminan cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi.

Karena itu, memahami konteks dan kebiasaan komunikasi lintas usia menjadi kunci penting. Tanpa pemahaman tersebut, pesan sederhana bisa dengan mudah disalahartikan dan berujung pada kesalahpahaman yang sebenarnya tidak perlu.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#emoji #typing anak muda