Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tak Hanya Sate dan Gulai, Selat Solo Jadi Inspirasi Menu Idul Adha

Nur Fadilah • Senin, 25 Mei 2026 | 10:09 WIB
Selat solo, hidangan yang terbuat dari daging sapi dan merupakan khas Jawa Tengah, menjadi salah satu referensi hidangan untuk Idul Adha. ANTARA/Natisha Andarningtyas.
Selat solo, hidangan yang terbuat dari daging sapi dan merupakan khas Jawa Tengah, menjadi salah satu referensi hidangan untuk Idul Adha. ANTARA/Natisha Andarningtyas.

 
GORONTALOPOST
-Di tengah tradisi Idul Adha yang identik dengan sate dan gulai, ada banyak cara lain untuk mengolah daging kurban menjadi sajian istimewa.

Salah satunya adalah Selat Solo, kuliner khas Jawa Tengah yang menawarkan perpaduan cita rasa Nusantara dan sentuhan Eropa dalam satu hidangan.

Pencerita kuliner Ade Putri Paramadita menyebut Selat Solo sebagai bentuk akulturasi budaya Indonesia dan Belanda yang telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan Keraton Surakarta.

“Selat Solo itu menurut aku akulturasi dari biefstuk-nya mereka alias bistik, tapi manis, rasanya Jawa banget,” ujar Ade kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Berbeda dari bistik khas Belanda yang identik dengan daging panggang dan kentang tumbuk, Selat Solo hadir dengan sentuhan lokal yang lebih kaya rempah dan manis.

Hidangan ini terdiri dari irisan daging sapi yang dimasak dengan kecap manis dan rempah khas Jawa, disajikan bersama kuah kaldu ringan, telur bacem, kentang goreng, acar, kacang, hingga bawang.

Kuliner ini lahir dari percampuran budaya pada masa kolonial Belanda, ketika masyarakat Keraton Surakarta mulai mengadaptasi gaya masakan Barat namun tetap mempertahankan karakter rasa Nusantara. Hasilnya adalah sajian yang terasa elegan, tetapi tetap akrab di lidah masyarakat Indonesia.

Menurut Ade, Idul Adha sebenarnya menjadi momen yang tepat untuk mengeksplorasi berbagai olahan daging, tidak hanya terpaku pada masakan bersantan atau berkuah pekat. Daging sapi maupun kambing dapat diolah menjadi menu yang lebih variatif dan modern tanpa menghilangkan kekayaan rasa tradisional.

Ia mencontohkan kambing yang bisa diolah menjadi lada hitam dengan cita rasa gurih pedas, atau krengsengan khas Jawa Timur yang dimasak dengan tumisan rempah, kecap manis, dan petis udang.

Ade juga menilai daging kambing memiliki fleksibilitas yang sama dengan daging sapi, termasuk untuk diolah menggunakan bumbu rendang. Namun, menurut dia, masih banyak masyarakat yang enggan mencoba karena khawatir hasil masakannya tidak sesuai harapan.

Padahal, mencoba resep baru justru dapat memperkaya pengalaman kuliner keluarga saat Idul Adha. Inspirasi dari masakan daerah lain maupun hidangan mancanegara bisa menjadi cara menarik untuk menghadirkan menu yang berbeda di meja makan.

Dengan kreativitas dalam mengolah daging kurban, Idul Adha bukan hanya menjadi momen berbagi, tetapi juga kesempatan mengenal kekayaan budaya lewat cita rasa makanan.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#kuliner #idul adha #masakan