Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Sering Begadang dan Makan Larut Malam? Ini Dampaknya bagi Tubuh

Nur Fadilah • Jumat, 29 Mei 2026 | 08:42 WIB
Ilustrasi - Seorang perempuan mengenakan penutup mata saat tidur. (Pexels/ Polina Kovaleva)
Ilustrasi - Seorang perempuan mengenakan penutup mata saat tidur. (Pexels/ Polina Kovaleva)

 

GORONTALOPOST -Gangguan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh ternyata bukan sekadar membuat seseorang merasa lelah atau sulit tidur.

Kondisi ini juga bisa berdampak serius terhadap kesehatan hingga memperpendek harapan hidup.

Profesor psikologi, neurosains, imunologi, dan genetika medis dari Ohio State University, Gary L. Wenk, Ph.D., dalam artikel yang dipublikasikan di Psychology Today pada Rabu (27/5), menjelaskan bahwa tubuh manusia bekerja mengikuti ritme sirkadian yang sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari dan pola hidup sehari-hari.

Menurut Wenk, ritme sirkadian mengatur kapan manusia seharusnya bangun, makan, hingga tidur. Secara alami, tubuh dirancang untuk aktif saat matahari bersinar dan beristirahat ketika malam tiba dengan waktu tidur sekitar tujuh jam.

“Jam biologis” di dalam tubuh memastikan berbagai sistem fisiologis bekerja pada waktu yang tepat. Namun, ritme tersebut harus terus disinkronkan setiap hari melalui paparan sinar matahari.

Sayangnya, gaya hidup modern justru membuat banyak orang lebih sering berada di dalam ruangan, kurang terkena cahaya alami, serta terbiasa makan dan beraktivitas hingga larut malam. Kebiasaan tersebut dinilai dapat mengacaukan sistem biologis tubuh.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa tidur kurang dari enam jam atau lebih dari delapan jam per hari dapat mempercepat proses penuaan organ tubuh. Kurang tidur juga dikaitkan dengan penurunan sistem imun, obesitas, diabetes, gangguan metabolisme, radang sendi, hingga menurunnya fungsi kognitif.

Wenk menjelaskan bahwa cahaya merupakan sinyal paling kuat untuk mengatur ulang jam biologis tubuh. Paparan cahaya biru terang pada pagi hari membantu meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan berpikir pada siang hari, sekaligus membantu tubuh memproduksi melatonin pada malam hari sebagai tanda waktu tidur.

Sebaliknya, cahaya biru dari lampu dan layar ponsel pada malam hari justru membingungkan sistem sirkadian. Akibatnya, produksi melatonin terhambat dan seseorang menjadi lebih sulit tidur.

Penelitian juga menunjukkan bahwa terlalu sedikit terpapar cahaya pada siang hari dan terlalu banyak cahaya di malam hari dapat memperpendek harapan hidup hingga lima tahun.

Selain cahaya, pola makan juga berpengaruh besar terhadap kualitas tidur dan kesehatan tubuh. Tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang untuk terus memproses makanan sepanjang hari, terutama pada malam hari.

Mengonsumsi makanan tinggi kalori menjelang tidur dapat mengganggu kerja jam biologis dan membuat proses pencernaan tidak berjalan optimal. Bahkan, mikrobioma usus disebut tidak “menyukai” makanan larut malam dan kondisi tersebut bisa memicu insomnia.

Makan malam berlebihan dan kebiasaan ngemil sebelum tidur juga meningkatkan kadar gula darah serta mengacaukan sinkronisasi jam biologis organ tubuh seperti hati dan ginjal.

Tak hanya itu, pola makan tinggi gula dan lemak jenuh membuat otak lebih banyak berada pada fase tidur ringan sehingga seseorang lebih sering terbangun pada malam hari. Sebaliknya, konsumsi buah dan sayuran pada siang hari justru dapat membantu tidur lebih nyenyak.

Wenk menyarankan agar masyarakat mulai memperbaiki pola hidup dengan lebih sering terkena cahaya alami, misalnya beraktivitas di luar ruangan atau duduk dekat jendela pada pagi hingga siang hari.

Pada malam hari, cahaya lampu sebaiknya diredupkan dan penggunaan televisi maupun ponsel dihentikan beberapa jam sebelum tidur. Selain itu, kebiasaan makan terlalu banyak saat malam dan ngemil sebelum tidur juga perlu dikurangi demi menjaga kualitas tidur dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#paparan cahaya #kualitas tidur