Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Bukan Sekadar Sulit Tidur, Kecemasan Malam Hari Ternyata Dipicu Hal Ini

Nur Fadilah • Jumat, 12 Juni 2026 | 09:59 WIB
Ilustrasi-- Orang dengan gangguan kecemasan. (Pexels/Nathan Cowley)
Ilustrasi-- Orang dengan gangguan kecemasan. (Pexels/Nathan Cowley)

 
GORONTALOPOST
-Banyak orang menganggap malam hari sebagai waktu terbaik untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas yang padat. Namun bagi sebagian orang, suasana yang seharusnya tenang justru menjadi momen munculnya kecemasan, pikiran berlebihan, hingga rasa gelisah yang sulit dijelaskan.

Pendiri dan Direktur Gateway of Healing, Dr. Chandni Tugnait, mengungkapkan bahwa kecemasan yang sering muncul pada malam hari bukan sekadar gangguan tidur biasa. Kondisi tersebut dapat terjadi karena sistem saraf dan otak telah bekerja terlalu keras sepanjang hari.

“Bagi banyak orang, malam hari bukanlah waktu istirahat, melainkan lebih seperti penghitungan tak terencana dari hari yang terlalu ramai untuk diproses,” ujar Tugnait seperti dikutip dari Hindustan Times.

Menurutnya, selama siang hari otak terus dibanjiri berbagai rangsangan, mulai dari notifikasi ponsel, tuntutan pekerjaan, tenggat waktu, hingga berbagai gangguan digital lainnya. Kesibukan tersebut membuat otak tidak memiliki kesempatan untuk memproses emosi dan tekanan yang dialami.

Ketika malam tiba dan suasana mulai hening, berbagai pikiran yang sebelumnya tertahan justru bermunculan. Akibatnya, seseorang merasa cemas, memikirkan banyak hal, atau sulit menenangkan diri sebelum tidur.

Selain itu, faktor hormon stres juga berperan besar. Stimulasi berlebihan sepanjang hari dapat membuat kadar kortisol, hormon yang berkaitan dengan stres, tetap tinggi hingga malam hari. Kondisi ini membuat sistem saraf terus berada dalam mode waspada, seolah-olah menghadapi ancaman yang sebenarnya tidak ada.

Akibatnya, tubuh menjadi sulit rileks, jantung terasa lebih berdebar, dan pikiran terus aktif meski waktu istirahat telah tiba.

Penyebab lainnya adalah kebiasaan tubuh yang sepanjang hari terbiasa dengan aktivitas, kebisingan, dan kesibukan. Saat semua aktivitas berhenti pada malam hari, tidak ada lagi distraksi yang mengalihkan perhatian. Di saat itulah berbagai kekhawatiran dan beban pikiran kembali muncul dan terasa lebih intens.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Tugnait menyarankan agar seseorang membangun rutinitas sebelum tidur yang dapat membantu menenangkan sistem saraf.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain menjauhkan diri dari layar gawai, menulis jurnal, membaca buku, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut diyakini dapat membantu tubuh dan pikiran bertransisi menuju waktu istirahat, sehingga kualitas tidur menjadi lebih baik dan kecemasan pada malam hari dapat berkurang.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#kecemasan #mental health