GORONTALOPOST -Banyak orang mengira rasa lapar yang muncul tidak lama setelah makan disebabkan oleh stres, kebiasaan ngemil, atau kurangnya kontrol diri. Namun, kondisi tersebut ternyata bisa menjadi sinyal bahwa kadar gula darah dalam tubuh sedang mengalami fluktuasi.
Konsultan Endokrinologi dan Diabetologi di Apollo Hospitals Bannerghatta Road, Bengaluru, Dr. Varun Suryadevara, menjelaskan bahwa rasa lapar yang datang kembali sesaat setelah makan sering kali berkaitan dengan cara tubuh memproses glukosa dari makanan yang dikonsumsi.
Menurutnya, kondisi ini umumnya terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat sederhana atau karbohidrat olahan, seperti nasi putih, roti berbahan tepung terigu olahan, serta aneka makanan dan minuman manis.
Saat makanan tersebut masuk ke tubuh, karbohidrat akan dengan cepat diubah menjadi glukosa. Akibatnya, kadar gula darah melonjak dalam waktu singkat. Untuk menyeimbangkannya, pankreas melepaskan hormon insulin dalam jumlah besar agar glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai energi.
"Ketika Anda mengonsumsi makanan dengan nasi putih, roti berbahan tepung terigu olahan, atau makanan manis, tubuh akan mencernanya menjadi glukosa dengan sangat cepat," ujar Dr. Varun.
Pada kondisi normal, proses tersebut tidak menjadi masalah. Namun, jika jumlah insulin yang dilepaskan terlalu banyak, kadar gula darah justru dapat turun secara drastis setelah makan. Penurunan inilah yang membuat tubuh kembali mengirimkan sinyal lapar meskipun perut sebenarnya baru saja terisi.
Tak hanya itu, rasa lapar yang terus-menerus muncul setelah makan juga bisa menjadi tanda resistensi insulin. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik, sehingga glukosa sulit masuk ke dalam sel dan tetap berada di aliran darah.
Akibatnya, tubuh merasa kekurangan energi meskipun kadar gula darah sebenarnya tinggi. Hal tersebut memicu sinyal lapar yang berulang dan membuat seseorang ingin terus makan.
Untuk mencegah siklus lapar berulang akibat fluktuasi gula darah, Dr. Varun menyarankan beberapa perubahan sederhana dalam pola makan sehari-hari.
Salah satunya adalah mengombinasikan karbohidrat dengan sayuran kaya serat, protein rendah lemak seperti telur dan kecambah, serta sumber lemak sehat seperti kacang-kacangan dan biji-bijian. Kombinasi ini membantu memperlambat proses pencernaan sehingga pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung lebih stabil.
Selain itu, ia menyarankan untuk memulai makan dengan sayuran dan protein terlebih dahulu, kemudian mengonsumsi karbohidrat di bagian akhir. Cara ini dinilai efektif membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan.
Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga tidak kalah penting. Pasalnya, dehidrasi ringan sering kali disalahartikan sebagai rasa lapar. Karena itu, saat muncul keinginan untuk makan lagi tak lama setelah makan, cobalah minum segelas air terlebih dahulu.
Meski demikian, rasa lapar yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele. Jika kondisi tersebut terjadi hampir setiap hari meskipun sudah makan dalam porsi besar, bisa jadi itu merupakan gejala polifagia atau rasa lapar berlebihan yang memerlukan pemeriksaan medis.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila rasa lapar disertai gejala lain seperti mudah lelah, berat badan naik atau turun secara tiba-tiba, serta sering buang air kecil.
Pemeriksaan ke tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui apakah fluktuasi gula darah atau resistensi insulin menjadi penyebab utama di balik rasa lapar yang tak kunjung reda.(antar)
Editor : Nur Fadilah