Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Sering Merasa Kesepian? Waspadai Dampaknya terhadap Kesehatan Otak

Nur Fadilah • Jumat, 26 Juni 2026 | 12:58 WIB
Ilustrasi - Orang kesepian. (Pixabay)
Ilustrasi - Orang kesepian. (Pixabay)

 

GORONTALOPOST -Kesepian selama ini sering dianggap hanya berdampak pada kondisi emosional seseorang. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesepian yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat memengaruhi kesehatan otak, mulai dari menurunkan daya ingat, mengganggu fungsi kognitif, hingga meningkatkan risiko penyakit neurologis seperti demensia.

Dikutip dari Hindustan Times, Kamis (25/6), Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth di India, Dr. Kunal Bahrani, menegaskan bahwa hubungan sosial memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak.

Menurutnya, interaksi dengan orang lain bukan hanya membantu menjaga keseimbangan emosi, tetapi juga merangsang kemampuan berpikir dan mengendalikan respons tubuh terhadap stres.

"Interaksi sosial yang rutin membantu merangsang fungsi kognitif, mengatur emosi, serta menjaga respons stres tetap sehat," ujar Dr. Bahrani.

Ia menjelaskan, ketika seseorang mengalami kesepian berkepanjangan, otak cenderung berada dalam kondisi waspada secara terus-menerus. Kondisi ini memicu peningkatan hormon stres, seperti kortisol, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, daya ingat, hingga suasana hati.

Berbagai penelitian juga menemukan bahwa kesepian kronis berkaitan dengan perubahan pada area otak yang berperan dalam mengatur emosi, proses belajar, dan pengambilan keputusan. Minimnya interaksi sosial membuat otak kehilangan stimulasi mental yang dibutuhkan untuk menjaga fleksibilitas dan ketahanan fungsi kognitif, terutama seiring bertambahnya usia.

Dr. Bahrani bahkan mengibaratkan hubungan sosial bagi otak sama pentingnya seperti olahraga bagi tubuh. Menurutnya, percakapan, pengalaman bersama, dan hubungan yang terus terjalin mampu mengaktifkan berbagai jaringan saraf di otak. Sebaliknya, ketika interaksi sosial semakin berkurang, stimulasi terhadap otak pun ikut menurun.

Pandangan serupa disampaikan ahli neurologi dari Apollo Speciality Hospitals di Chennai, Dr. Sreenivas UM. Ia mengungkapkan bahwa hasil penelitian terbaru menunjukkan kesepian menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko demensia.

Menurutnya, kesepian dapat menyebabkan perubahan struktural pada bagian otak yang berfungsi mengatur memori, kemampuan berpikir, penalaran, dan pengambilan keputusan.

Tak hanya itu, isolasi sosial juga dapat memperburuk kondisi pasien yang mengalami gangguan neurologis seperti stroke, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, maupun demensia. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat proses pemulihan sekaligus meningkatkan risiko kekambuhan.

Menariknya, hasil pencitraan otak menunjukkan bahwa area yang aktif saat seseorang merasa kesepian memiliki kemiripan dengan area yang bekerja ketika tubuh merasakan nyeri fisik. Temuan ini menjadi penjelasan ilmiah mengapa istilah "sakit hati" bukan sekadar ungkapan, tetapi benar-benar berkaitan dengan respons otak.

Kesepian yang terus berlangsung juga dapat menurunkan aktivitas jalur penghargaan di otak. Akibatnya, interaksi sosial terasa kurang menyenangkan sehingga seseorang semakin memilih menarik diri dari lingkungan. Siklus tersebut akhirnya memperparah isolasi sosial dan mempercepat penurunan kesehatan otak.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kesepian bukanlah kondisi permanen. Otak memiliki kemampuan beradaptasi dan membentuk koneksi baru apabila seseorang mulai kembali membangun hubungan sosial yang sehat.

Karena itu, mengenali tanda-tanda kesepian sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental sekaligus fungsi neurologis dalam jangka panjang.

Membangun hubungan yang bermakna, mempelajari keterampilan baru, menekuni hobi, rutin berolahraga, serta aktif mengikuti kegiatan komunitas dapat menjadi cara sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan otak sekaligus meningkatkan kualitas hidup.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#kesehatan mental #kesepian #kesehatan otak