Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tubuh Punya Alarm Kekurangan Protein, Ini Cara Kerjanya

Nur Fadilah • Senin, 6 Juli 2026 | 11:17 WIB
Ilustrasi - Makan. ANTARA/Pixabay/rawpixel.
Ilustrasi - Makan. ANTARA/Pixabay/rawpixel.

GORONTALOPOST-Pernah merasa tiba-tiba ingin menyantap daging, telur, atau makanan tinggi protein? Ternyata keinginan tersebut bukan sekadar selera. Penelitian terbaru mengungkap bahwa tubuh memiliki mekanisme biologis yang mampu memberi tahu otak ketika sedang kekurangan nutrisi penting, terutama asam amino esensial.

Dilansir dari Psychology Today, Minggu, hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa usus berperan sebagai "pengirim pesan" kepada otak saat kadar asam amino esensial di dalam tubuh menurun. Sinyal tersebut kemudian memicu dorongan untuk mencari makanan yang kaya protein.

Asam amino esensial merupakan zat gizi yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Nutrisi ini sangat dibutuhkan untuk membangun, memperbaiki, dan menjaga berbagai jaringan tubuh agar tetap berfungsi optimal.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan melakukan percobaan pada lalat buah. Hasilnya menunjukkan bahwa hewan yang menjalani pola makan rendah protein secara konsisten lebih memilih mengonsumsi asam amino esensial dibandingkan zat lain yang tidak memberikan manfaat nutrisi.

Temuan serupa juga ditemukan pada tikus. Saat tubuh kekurangan asam amino esensial, hewan tersebut menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk memilih makanan yang kaya protein dibandingkan jenis makanan lainnya.

Peneliti kemudian menemukan peran penting molekul bernama CNMamide yang diproduksi di dalam usus. Ketika tubuh mengalami kekurangan asam amino, produksi molekul ini meningkat dan mengirimkan sinyal melalui saraf serta aliran darah menuju otak. Sinyal inilah yang mendorong tubuh untuk mencari sumber protein guna memenuhi kebutuhan nutrisi.

Menariknya, mekanisme tersebut tidak hanya meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan berprotein, tetapi juga menekan keinginan terhadap makanan manis. Menurut para peneliti, gula memang mampu menyediakan energi, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi asam amino esensial yang dibutuhkan sebagai bahan pembangun dan perbaikan jaringan tubuh.

Temuan ini sekaligus memperkuat pemahaman bahwa rasa lapar tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan kalori. Tubuh ternyata juga mampu mengenali kekurangan zat gizi tertentu dan mengarahkan seseorang untuk mencari makanan yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Para peneliti berharap hasil studi ini dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang terkadang memiliki keinginan kuat terhadap jenis makanan tertentu. Dalam banyak kasus, dorongan tersebut kemungkinan merupakan cara alami tubuh memberi sinyal bahwa ada nutrisi penting yang sedang dibutuhkan, terutama protein.(antara)

Editor : Nur Fadilah
#rasa lapar #kebutuhan nutrisi