RS Sitti Khadijah Gorontalo Bertransformasi Jadi Rumah Sakit Umum, Gedung Baru Mulai Dibangun

Azis Manansang • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:49 WIB

 

Groundbreaking ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung oleh Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, Senin (10/8/2026). disaksikan Direktur RS Sitti Khadijah Gorontalo, Rusli Katili. Ketua Wilayah Muhamadiyah Gorontalo, Ketua dan Pengurus Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Gorontalo.(F:istimewa)
Groundbreaking ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung oleh Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, Senin (10/8/2026). disaksikan Direktur RS Sitti Khadijah Gorontalo, Rusli Katili. Ketua Wilayah Muhamadiyah Gorontalo, Ketua dan Pengurus Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Gorontalo.(F:istimewa)

Gorontalopost, GORONTALO– Transformasi pelayanan kesehatan tengah dilakukan 
Rumah Sakit  Sitti Khadijah Gorontalo. 

Rumah sakit yang selama ini dikenal dengan layanan ibu dan  anak tersebut mulai 
membangun gedung baru sekaligus memperluas cakupan layanan menuju rumah sakit  umum.

Proses pembangunan resmi dimulai melalui peletakan batu pertama oleh Wakil Wali Kota  Gorontalo, Indra Gobel, Senin (10/8/2026). 

Direktur Rumah Sakit Sitti Khadijah Gorontalo, Rusli Katili, turut hadir dalam agenda 
bersama Ketua Wilayah Muhamadiyah Gorontalo, Ketua dan Pengurus Daerah ‘Aisyiyah  (PDA) Kota Gorontalo.

Momentum itu juga menjadi penanda bertambahnya layanan baru dengan diluncurkannya  poli gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial.

Baca Juga: 5 Pickup Angkut 7.000 Liter Solar Subsidi Diciduk di Pohuwato, 1 Diduga Milik Oknum TNI

Indra Gobel dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa ekspansi rumah sakit tidak  boleh berhenti pada pembangunan gedung. 

Menurutnya, fasilitas baru harus diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan serta  sumber daya pelayanan agar masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.

Bagi Indra, tujuan utama dari seluruh pembangunan fasilitas kesehatan adalah 
menghadirkan pelayanan yang semakin baik. 

Karena itu, aspek keamanan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan pasien harus menjadi  perhatian utama.

Selain ruang pelayanan, ia juga menyoroti kebutuhan fasilitas pendukung seperti area  parkir. 

Menurutnya, lahan parkir yang memadai dengan pengelolaan yang tertib akan ikut 
menentukan kenyamanan pasien dan keluarga saat mengakses layanan kesehatan.

Ia berharap pengembangan yang dilakukan dapat membawa RS Sitti Khadijah menjadi  salah satu rumah sakit swasta yang dapat diandalkan sebagai rujukan di Kota Gorontalo,  terutama dari sisi fasilitas dan mutu pelayanan.

Sementara itu, Rusli Katili mengungkapkan bahwa pembangunan gedung baru tidak 
berdiri sendiri. 

Proyek tersebut merupakan bagian dari proses perubahan besar yang sedang dilakukan  rumah sakit untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.

RS Sitti Khadijah kini telah mengembangkan berbagai layanan spesialis. Selain layanan  bedah, rumah sakit tersebut memiliki layanan penyakit dalam, obstetri dan ginekologi,  anak, serta kulit dan kelamin.

Perubahan paling penting akan terjadi pada status operasional rumah sakit. Rusli 
menyampaikan bahwa mulai November, izin operasional RS Sitti Khadijah akan berubah 
dari rumah sakit khusus ibu dan anak menjadi rumah sakit umum.

Perubahan itu sekaligus menuntut rumah sakit untuk memperluas layanan dan melengkapi  fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan pasien.

Salah satu layanan yang menjadi perhatian adalah women surgery team. Tim ini 
seluruhnya terdiri dari tenaga medis perempuan dan disiapkan

untuk memberikan pilihan  pelayanan bedah bagi pasien perempuan yang lebih nyaman ditangani tenaga kesehatan  perempuan.

Selain layanan tersebut, rumah sakit juga sedang mempersiapkan layanan mata. Pada saat  yang sama, layanan bedah mulut mulai diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan  groundbreaking pembangunan gedung baru.

Baca Juga: Promo Kemerdekaan ASTON Gorontalo: Kamar Mulai Rp 658 Ribu, Dapat Sarapan hingga Kolam Renang

Dari sisi pendanaan, pengembangan rumah sakit mendapat dukungan pembiayaan Rp 20  miliar dari Bank Syariah Indonesia melalui skema yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat  Muhammadiyah.

Meski demikian, dana tersebut belum mencukupi seluruh kebutuhan pengembangan. 

Rumah sakit masih membutuhkan tambahan sekitar Rp15 miliar untuk melanjutkan 
pembangunan lantai tiga dan empat.

Kebutuhan lain yang menjadi prioritas adalah pengadaan CT Scan dengan nilai sekitar Rp  6 miliar.

Fasilitas tersebut dipandang penting untuk mendukung penguatan layanan rumah 
sakit seiring perubahan status menjadi rumah sakit umum.

Pengembangan fasilitas itu dilakukan bersamaan dengan upaya mempertahankan mutu  pelayanan.

Pada 2026, RS Sitti Khadijah Gorontalo memperoleh predikat sebagai rumah  sakit yang paling berkomitmen terhadap mutu pelayanan BPJS Kesehatan.

Bagi Rusli, capaian tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan status  rumah sakit dan memperluas pelayanan kepada masyarakat.

Di balik proses transformasi itu, RS Sitti Khadijah memiliki sejarah yang cukup panjang. 

Rumah sakit tersebut telah berdiri sejak 1970 dengan nama awal Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).

Seiring waktu, fasilitas tersebut berkembang menjadi rumah bersalin. Pada 2007, statusnya  kemudian menjadi rumah sakit ibu dan anak.

Rusli mengatakan perjalanan panjang tersebut tidak lepas dari peran para pendiri dan  tenaga kesehatan yang telah memberikan kontribusi sejak awal.

Sebagai bentuk penghormatan, nama sejumlah tokoh yang berjasa dalam perjalanan rumah  sakit diabadikan pada ruang-ruang pelayanan.

Kini, pembangunan gedung baru dan ekspansi layanan menjadi bagian dari fase berikutnya  dalam perjalanan RS Sitti Khadijah. 

Dengan dukungan fasilitas yang terus ditambah, rumah sakit tersebut ditargetkan semakin mampu

memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat Kota Gorontalo dan wilayah sekitarnya.(Mg-02).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo pembangunan gedung baru Wakil Wali Kota Gorontalo ct scan rumah sakit