Sungai Bulango Kembali Dipenuhi Eceng Gondok, Warga Sorot Sampah hingga Ancaman Hewan

Azis Manansang • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:04 WIB

 

Kembalinya eceng gondok setelah sebelumnya dibersihkan menjadi tanda bahwa persoalan Sungai Bulango membutuhkan pendekatan yang lebih luas (F:Istimewa)
Kembalinya eceng gondok setelah sebelumnya dibersihkan menjadi tanda bahwa persoalan Sungai Bulango membutuhkan pendekatan yang lebih luas (F:Istimewa)

Gorontalopost, GORONTALO — Upaya membersihkan Sungai Bulango dari eceng gondok belum sepenuhnya membuat persoalan tersebut berakhir. 

Tanaman air itu kini kembali tumbuh lebat di sejumlah kawasan, khususnya sekitar Kelurahan Biawu dan Biawao.

Padahal, pada Juni 2026 lalu, tumpukan eceng gondok di sungai tersebut telah ditangani  Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II dengan menggunakan alat berat. 

Baca Juga: Tak Lagi di Struktur Kadin, Jasin Mohammad Tegaskan Dukungan untuk Kepemimpinan Andi Ilham

Penanganan itu dilakukan setelah kondisi sungai mendapat perhatian dan keluhan dari masyarakat.

Kini, kondisi serupa kembali terlihat. Permukaan sungai di beberapa bagian mulai tertutup  tanaman air, memunculkan kekhawatiran warga yang rumahnya berada tidak jauh dari  bantaran.

Bagi warga, persoalan tersebut lebih serius daripada sekadar mengganggu keindahan  lingkungan. 

Eceng gondok yang tumbuh semakin lebat dikhawatirkan mengganggu aliran air sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan hewan seperti ular, biawak dan tikus berlindung di kawasan tersebut.

Kekhawatiran itu disampaikan warga Kelurahan Biawao, Fityanti Ali. Ia mengatakan 
pertumbuhan eceng gondok saat ini sudah cukup lebat dan mulai berdampak terhadap  lingkungan sekitar.

“Tanaman eceng gondok sekarang semakin banyak. Selain memenuhi sungai, 
keberadaannya juga menjadi tempat hewan seperti ular, biawak dan tikus. Bahkan, pernah  ada ular yang masuk sampai ke rumah,” ungkap Fityanti, Jumat (25/9/2026).

Menurut Fityanti, kawasan itu sebelumnya sudah pernah mendapatkan penanganan 
melalui normalisasi sungai. Namun, masih ada bagian tertentu yang belum bersih sehingga  eceng gondok kembali berkembang.

Baca Juga: Anggaran Rp 423 Juta Perjalanan Banmus DPRD Gorontalo Dipersoalkan, Sekwan Sebut Tidak Benar

Masalah lainnya adalah sampah. Warga masih mendapati adanya masyarakat yang 
membuang sampah di sekitar aliran Sungai Bulango.

Kondisi tersebut membuat persoalan sungai tidak dapat hanya dilihat dari sisi 
pertumbuhan eceng gondok. Ketika tanaman air bertambah dan sampah terus masuk ke  kawasan sungai, persoalan kebersihan dan lingkungan menjadi semakin berkelindan.

Warga lainnya, Kadir, berharap pemerintah tidak menunggu sampai kondisi sungai kembali  dipenuhi eceng gondok untuk kemudian melakukan penanganan. Ia menginginkan adanya  perhatian dan pemeliharaan secara berkelanjutan.

Kembalinya eceng gondok setelah sebelumnya dibersihkan menjadi tanda bahwa 
persoalan Sungai Bulango membutuhkan pendekatan yang lebih luas.

Membersihkan tanaman yang menutupi permukaan sungai memang menjadi bagian penting  dari penanganan. 

Namun, langkah tersebut perlu diikuti dengan upaya memahami kondisi yang menyebabkan eceng gondok dapat kembali tumbuh dalam jumlah banyak.

Secara umum, pertumbuhan tanaman air dapat berkaitan dengan kondisi perairan dan  ketersediaan nutrien. 

Karena itu, penanganan Sungai Bulango tidak cukup hanya berorientasi pada pengangkatan tanaman, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan sungai secara menyeluruh.

Kembalinya eceng gondok hanya beberapa bulan setelah pembersihan juga menjadi 
momentum untuk mengevaluasi efektivitas penanganan sebelumnya.

Kawasan Biawu dan Biawao pada akhirnya menghadapi persoalan yang lebih besar: 
bagaimana menjaga sungai tetap bersih setelah proses normalisasi dilakukan.

Baca Juga: Usulan Pemekaran Wilayah Mulai Masuk, Pemkab Bone Bolango Siapkan Tim Kajian

Lurah Biawao, Nurhadi Taha, menjadi salah satu pihak yang memiliki peran penting dalam  menggambarkan kondisi lingkungan sekaligus kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.

Warga pun mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait mengambil langkah  jangka panjang. 

Selain pembersihan dan normalisasi sungai, pengelolaan sampah di bantaran juga dinilai harus diperkuat.

Salah satu gagasan yang disampaikan warga adalah menempatkan tong sampah berukuran  besar di titik-titik tertentu yang mudah dijangkau. 

Dengan fasilitas tersebut, warga diharapkan memiliki tempat pembuangan yang lebih mudah, sementara sampah dapat dikumpulkan dan diangkut petugas secara lebih teratur.

Bagi warga yang tinggal di sekitar Sungai Bulango, keberadaan sungai memiliki arti lebih  dari sekadar jalur air. Sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di  kawasan bantaran.

Karena itu, ketika eceng gondok kembali menutupi sebagian permukaannya, persoalan  yang muncul bukan hanya soal tanaman air. 

Ada persoalan kebersihan, pengelolaan  lingkungan, kelancaran aliran sungai hingga kenyamanan warga yang perlu mendapat perhatian bersama.

Kondisi Sungai Bulango di Biawu dan Biawao pun menjadi pengingat bahwa menjaga  sungai tidak selesai setelah alat berat meninggalkan lokasi. 

Pemeliharaan, pengelolaan sampah dan perhatian berkelanjutan menjadi bagian penting agar persoalan serupa tidak terus berulang.(Ris).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo normalisasi sungai sungai Bulango BWS Sulawesi II Lingkungan