GORONTALOPOST- Perubahan arah politik Anies Baswedan yang kini menjalin hubungan dengan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin telah memicu ketegangan dalam Partai Demokrat. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, akhirnya memberikan penjelasan untuk mengungkap kebingungan publik mengenai hubungan di antara ketiga partai besar tersebut.
Melalui akun pribadinya di platform media sosial X (sebelumnya Twitter) dengan nama pengguna @jansen_jsp, Jansen mengungkapkan peristiwa yang melibatkan Anies, AHY, dan Cak Imin. Ia menuliskan serangkaian cuitan panjang yang berjudul 'Kesepakatan Pintu Belakang'.
Dalam ceritanya, Jansen membahas surat yang dikirim oleh Anies untuk mengajukan diri sebagai calon wakil presiden (bacawapres) AHY di Pilpres 2024. Menurut Jansen, AHY telah memberikan jawaban positif atas surat tersebut dan bersedia menjadi bacawapres Anies dalam pemilihan presiden mendatang.
"Surat dari Mas Anies tersebut telah dijawab oleh Mas AHY melalui surat tangan pada tanggal 25 Agustus 2023. Dalam surat tersebut, Mas AHY menyatakan persetujuannya. Saya telah melihat suratnya secara langsung," tulis Jansen seperti yang dilaporkan oleh JawaPos.com pada Sabtu (2/9).
Namun, menurut Jansen, jawaban tersebut tidak dipublikasikan pada saat itu karena masih menunggu waktu yang tepat. Lebih lanjut, surat lamaran pada tanggal 25 Agustus sebenarnya bukanlah yang pertama kali dikirimkan oleh Anies Baswedan.
Jansen mengungkapkan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu telah beberapa kali menyatakan niatnya untuk menjadikan AHY sebagai calon wakil presidennya, bahkan sebelum tanggal tersebut. Bahkan, Anies pernah menyampaikan niatnya dengan kata-kata, "Mari kita 'menjemput takdir' bersama."
"Jadi, baik secara lisan maupun tertulis, Mas Anies sebenarnya telah beberapa kali menyatakan dan memutuskan untuk memilih Mas AHY sebagai pasangannya. Mulai dari penyampaian lisan pada tanggal 14 Juni 2023 hingga surat tertulis pada tanggal 25 Agustus 2023 (salinan surat terlampir di bawah). Namun, dia akhirnya melanggar komitmen tersebut," terang Jansen.
Lebih lanjut, Jansen menjelaskan bahwa Partai Demokrat sebenarnya telah siap untuk mendeklarasikan Anies dan AHY sejak lama. Namun, Anies dituduh memperlambat pendeklarasian tersebut dengan alasan terlalu cepat dan ingin menunggu momen yang tepat.
Partai Demokrat dengan sabar menerima permintaan Anies dan bersedia menunggu waktu yang dianggap tepat. Namun, secara tiba-tiba, Anies dilaporkan telah menggandeng Cak Imin sebagai calon wakil presidennya, seolah-olah melupakan AHY yang sudah lebih dulu dimintanya.
'Kesepakatan Pintu Belakang' antara Anies dan Cak Imin yang disepakati dalam waktu singkat telah merusak kerjasama dan komitmen antara Partai Demokrat dan Anies yang telah terjalin selama ini.
"Sehingga komitmen, kerjasama, dan kepercayaan di antara kita yang telah terjalin selama 1 tahun ini hancur karena kesepakatan yang dibuat dalam waktu kurang dari 24 jam. Kesepakatan ini dilakukan di belakang pintu, secara diam-diam, tanpa mempertimbangkan dengan baik dan tanpa persetujuan kita semua," tegas Jansen. (jpg)